Kamis, 23 Februari 2017

Bunda, Mengapa Kamu Pergi?



Bunda memukulku, lagi. Katanya aku anak pembawa sial. Karena aku, bunda dibuang dari keluarga besarnya dan karirnya hancur. Karna aku, bunda yang biasa hidup enak harus membanting tulang mencari kerja serabutan untuk menghidupi kami dan membayar uang sewa rumah mungil kami. Ini bukan pertama kalinya untukku. Bunda sangat sering memukulku dan mencaciku hanya karena hal sepele. Lupa memasukkan garam di telur dadarnya, misalnya. Tapi aku tau, bunda sayang padaku. Jika tidak, dia bisa saja bukan membunuhku saat aku masih berupa embrio yang baru saja berkembang, bukan?
 
Ya, bunda menyayangiku.

Aku menutup mataku, mencoba menikmati pukulan bunda. Setelah itu, rasa sakitku hilang. Aku seperti tersedot dalam dimensi lain. Makian bunda samar ku dengar. Pukulannya hanya terasa seperti belaian. Bunda menyayangiku.

Setelahnya,
Aku tidak tau mengapa bunda menatapku dengan tatapan kaget bercampur takut. Aku juga tidak tau, mengapa pergelangan tangan bunda tiba tiba biru dan pipi bunda merah seperti baru ditampar? Sudut bibir bunda juga sedikit sobek dan berdarah. Tidak ada orang lain selain kami di rumah ini. Aku hanya menatap bunda dengan tatapan polosku. Agak heran, pasalnya kali ini dia memukulku cukup sebentar. Biasanya, jika sedang kalap, dia bisa memukuliku lama sekali.

“Anak bodoh tidak tau diri!” katanya setelah beberapa menit bertahan dengan tatapan kagetnya, kemudian berlari keluar rumah. Aku bingung. Salahku apa lagi? 
***

Kemudian, semuanya berjalan aneh. Bunda sudah jarang memukul dan memarahiku. Tapi bunda menghindariku seperti setan. Bunda semakin jarang berada di rumah. Pergi sebelum aku bangun tidur, dan seringkali pulang saat aku sudah tidur. Aku bingung kenapa. Setiap berpas-pasan denganku, dia akan berjalan cepat meninggalkanku. Dia tidak mau lagi ku pijat. Jangankan berbicara, melihatku saja sudah lari. Padahal hari ini aku ingin berbicara dengannya. Mengenai uang sekolahku yang sudah jatuh tempo berbulan-bulan. Juga sepatuku yang bolongnya semakin parah dan tidak bisa dipakai lagi. Belum lagi seragamku yang sudah lusuh hingga aku mendapat teguran dari guruku.

Maka dengan nekat, aku memasuki kamar bunda. Terakhir aku masuk ke sini, tampaknya saat umurku 5 tahun. Berakhir dengan bunda menyeretku keluar dan mengurungku di kamar mandi seharian setelahnya, hingga aku tidak berani lagi melangkahkan kaki di daerah kamarnya. Dan setelah 12 tahun tidak masuk, yang ku dapati bunda dengan terburu-buru sedang memasukkan baju-baju usangnya ke sebuah tas koper yang tak kalah usang. Aku terpaku.

Bunda mau meninggalkanku? Aku terima dipukul dimaki dan diapakan saja olehnya, tapi dia berniat meninggalkanku? Untuk pertama kalinya, aku marah pada bunda. Aku merasa begitu marah, hingga rasanya seluruh sel dalam tubuhku membengkak dan siap meledak. Aku merasa begitu marah, hingga aku merasa begitu pusing dan tidak dapat berbicara. Hingga tiba-tiba saja, sama seperti saat terakhir, aku seperti terbawa ke dimensi lain.

Setelahnya, aku terkejut. Bunda sangat berantakan. Bajunya banyak yang sobek. Luka cakar dimana-mana. Entah berapa tamparan yang dilayangkan seseorang pada pipi mulus bunda. Memar-memar di sekitar leher bunda, bekas cekikan aku rasa. Rambut bunda, astaga, astaga. Tipis sekali. Bunda menangis histeris menatapku penuh ketakutan. Salahku apa?

“KAMU GILA! SAMA SEPERTI AYAHMU!”

Bunda berteriak keras sekali, lalu berlari keluar rumah tanpa membawa apa-apa. Tanpa berkata apa-apa lagi. Entah firasatku mengatakan bunda tidak akan kembali. Bunda sudah tidak menyayangiku.

Aku menangis. Lututku terasa lemah, aku terduduk di lantai. Tapi aku sudah berjanji untuk kuat. Untuk tidak menangis. Maka aku berhenti menangis. Lalu saat hendak kuusap kedua pipiku agar bersih dari air mata, yang ku temui pada tanganku membuatku tersentak.

Sejumput rambut bunda.

 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design