Bunda memukulku, lagi. Katanya aku anak pembawa sial. Karena
aku, bunda dibuang dari keluarga besarnya dan karirnya hancur. Karna aku, bunda
yang biasa hidup enak harus membanting tulang mencari kerja serabutan untuk
menghidupi kami dan membayar uang sewa rumah mungil kami. Ini bukan pertama
kalinya untukku. Bunda sangat sering memukulku dan mencaciku hanya karena hal
sepele. Lupa memasukkan garam di telur dadarnya, misalnya. Tapi aku tau, bunda
sayang padaku. Jika tidak, dia bisa saja bukan membunuhku saat aku masih berupa
embrio yang baru saja berkembang, bukan?
Ya, bunda menyayangiku.
Aku menutup mataku, mencoba
menikmati pukulan bunda. Setelah itu, rasa sakitku hilang. Aku seperti tersedot
dalam dimensi lain. Makian bunda samar ku dengar. Pukulannya hanya terasa
seperti belaian. Bunda menyayangiku.
Setelahnya,
Setelahnya,
Aku tidak tau mengapa bunda menatapku dengan tatapan kaget
bercampur takut. Aku juga tidak tau, mengapa pergelangan tangan bunda tiba tiba
biru dan pipi bunda merah seperti baru ditampar? Sudut bibir bunda juga sedikit
sobek dan berdarah. Tidak ada orang lain selain kami di rumah ini. Aku hanya
menatap bunda dengan tatapan polosku. Agak heran, pasalnya kali ini dia
memukulku cukup sebentar. Biasanya, jika sedang kalap, dia bisa memukuliku lama
sekali.
“Anak bodoh tidak tau diri!”
katanya setelah beberapa menit bertahan dengan tatapan kagetnya, kemudian
berlari keluar rumah. Aku bingung. Salahku apa lagi?
***
Kemudian, semuanya berjalan aneh. Bunda sudah jarang
memukul dan memarahiku. Tapi bunda menghindariku seperti setan. Bunda semakin
jarang berada di rumah. Pergi sebelum aku bangun tidur, dan seringkali pulang
saat aku sudah tidur. Aku bingung kenapa. Setiap berpas-pasan denganku, dia
akan berjalan cepat meninggalkanku. Dia tidak mau lagi ku pijat. Jangankan berbicara,
melihatku saja sudah lari. Padahal hari ini aku ingin berbicara dengannya. Mengenai
uang sekolahku yang sudah jatuh tempo berbulan-bulan. Juga sepatuku yang
bolongnya semakin parah dan tidak bisa dipakai lagi. Belum lagi seragamku yang sudah lusuh hingga aku mendapat teguran dari guruku.
Maka dengan nekat, aku memasuki kamar bunda. Terakhir aku
masuk ke sini, tampaknya saat umurku 5 tahun. Berakhir dengan bunda menyeretku keluar dan
mengurungku di kamar mandi seharian setelahnya, hingga aku tidak berani lagi
melangkahkan kaki di daerah kamarnya. Dan setelah 12 tahun tidak masuk, yang ku
dapati bunda dengan terburu-buru sedang memasukkan baju-baju usangnya ke sebuah
tas koper yang tak kalah usang. Aku terpaku.
Bunda mau meninggalkanku? Aku terima dipukul dimaki dan
diapakan saja olehnya, tapi dia berniat meninggalkanku? Untuk pertama kalinya,
aku marah pada bunda. Aku merasa begitu marah, hingga rasanya seluruh sel dalam tubuhku membengkak dan siap meledak. Aku merasa begitu marah, hingga aku merasa begitu pusing dan tidak dapat berbicara. Hingga tiba-tiba saja, sama seperti saat terakhir, aku seperti terbawa ke dimensi
lain.
Setelahnya, aku terkejut. Bunda sangat berantakan. Bajunya banyak
yang sobek. Luka cakar dimana-mana. Entah berapa tamparan yang dilayangkan
seseorang pada pipi mulus bunda. Memar-memar di sekitar leher bunda, bekas
cekikan aku rasa. Rambut bunda, astaga, astaga. Tipis sekali. Bunda menangis
histeris menatapku penuh ketakutan. Salahku apa?
“KAMU GILA! SAMA SEPERTI AYAHMU!”
Bunda berteriak keras sekali, lalu berlari keluar rumah
tanpa membawa apa-apa. Tanpa berkata apa-apa lagi. Entah firasatku mengatakan
bunda tidak akan kembali. Bunda sudah tidak menyayangiku.
Aku menangis. Lututku terasa lemah, aku terduduk di lantai. Tapi
aku sudah berjanji untuk kuat. Untuk tidak menangis. Maka aku berhenti
menangis. Lalu saat hendak kuusap kedua pipiku agar bersih dari air mata, yang
ku temui pada tanganku membuatku tersentak.
Sejumput rambut bunda.