Sabtu, 04 Maret 2017

Si Gila yang Tak Lagi Gila



Dia cantik. Jenis kecantikan alami yang tidak bisa disamarkan dalam keadaan paling buruknya sekalipun. Aku tau dia cantik. Orangtuaku yang luar biasa cuek tau dia cantik. Tetanggaku yang suka menggosip tau dia cantik. Bahkan satpam satu lingkungan kami tau dia cantik. Intinya, semua yang hidup tau dia cantik.

Tapi dia gila. Dan semua yang tau bahwa dia cantik, juga tau bahwa dia gila.

Tidak jelas mengapa dan sejak kapan, tiba-tiba saja begitu. Dia suka berbicara sendiri. Dia suka berjalan seraya tertawa. Dari lingkunganku, tiba-tiba aku melihatnya di sekolahku yang berjarak lumayan jauh. Dia suka bermain basket. Oh, jangan tanya aku betapa banyak ejekan yang dia terima. Atau ucapan menyayangkan. “Ah, cantik, sayangnya gila”. Teman-temanku di sekolah saja, sangat suka membicarakannya dan menjadikannya lelucon. Gila, jahat memang. Dia hanya gila. Dia tidak berbuat apa-apa yang mengganggu orang lain. Dia bahkan tetap rajin ke gereja, bahkan terlihat saat normal saat sedang mengakrabkan diri dengan penciptaNya. 

Memang manusia itu jahat dan bahkan lebih gila dari gadis gila itu. Tiba-tiba saja, dia mengandung. Tidak ada yang tau oleh siapa. Dan nampaknya dia tidak berniat memberi tau siapa-siapa. Dia jadi sulit ditemukan. Tidak ada lagi dia di lapangan basket. Tidak ada lagi dia yang suka berjalan di sore hari. Bahkan di gerejapun, dia jarang terlihat. Kembali, mereka mengejek-ngejek gadis itu. Sudah gila, perempuan sundal juga katanya. Ingin rasanya kubungkam mulut mereka. Apa mereka tidak merasa lebih gila dari gadis cantik nan gila itu?

Aku sempat khawatir padanya. Bagaimana dia? Apa dia menjaga kandungannya dengan baik? Atau bahkan melenyapkan janin itu? Semakin gilakah dia? Dan banyak pertanyaan lain yang terputar di benakku. Namun nyatanya pertanyaanku terjawab kurang lebih 9 bulan kemudian. Dia mulai terlihat lagi di lingkungan, dengan senyum sumringah dan seorang bayi mungil yang mewarisi kecantikannya di tangannya. Oh, dia bisa bercanda dengan orang-orang sekitar. Dia tidak lagi berbicara sendiri dan melantur. Bisa kulihat, matanya yang dulu kosong sudah bersinar lagi. Hilang sudah kegilaannya. Kembali sudah kewarasannya. Bukankah benar dugaanku? Cinta bisa membawakan seseorang kebahagiaan. Cinta tidak harus pada kekasih dan pasangan, bukan? Bukankah cinta seorang ibu kepada anaknya adalah cinta yang tersuci setelah cinta Tuhan untuk umatNya?

Aku lega, dan terselip rasa bangga untuknya. Juga untukku. Bukankah tindakanku benar? Untuk memberi gadis cantik gila itu seseorang untuk dicintai? Bukankah secara tidak langsung, aku yang menyembuhkannya dari kegilaan? Aku yang berhasil mengembalikan kewarasannya. Kelak, dia dan bayi itu akan berterimakasih padaku.

 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design