Jumat, 08 Desember 2017

My Mind is a Never Ending Train



I woke up this morning, feeling tons of stones inside my head. How will it be today? Worse? Or better? Will everything be alright or something bad will happen? I want to get up, but something keeps me laid. What if today’s worse than tomorrow? Will I be able to get through the day without being so suicidal? I will be okay, the lie I always tell to myself.

Then I leave home, go to school without no expectation. But when I walk in, I feel like everybody’s looking at me. Is there something wrong with my hair? Or my face? Am I that ugly or am I that weird? How do I look today? My shirt, my pants, my shoes, are they fashionable enough for the society? Then suddenly I feel everyone’s talking about me. Is it the way I walk? Or maybe the gossip they’ve heard the day before? My heart’s pounding, hands are trembling. Everything becomes blurry. Calm down, I say to myself. Don’t look like a fool. Don’t let them see you get nervous.

And I finally reach the class. Everything’s okay. Until I talk to someone, and I keep thinking am I too expressive when I talk? How does my face look like when I laugh? Is my sound too loud when I talk? My eyes are wandering, don’t have enough courage to look them into the eyes. It makes me look freak, doesn’t it? Are there inappropriate words that I say unconsciously? 

I get home in the evening and finally relax. I smile, I watch television, I listen to the music and dance to the rhythm. Everything’s okay until I have to send a message to my friends about a group assignment. 5 minutes. 10 minutes. They don’t reply. They don’t like me, do they? Do I annoy them with sending them text? But no. Maybe they have another activity so they don’t check their phone. Hey, but they updated their stories at social media! They’re having fun, while here I’m trying to do the group assignment. I send another text. No, why am I texting them more than once? Is it too much? I pissed them off, do I? I take a pill of fluoxetine, and finally the voices in my head stop for a while.

I can’t sleep at night. I’m so tired, so exhausted. I need to sleep, but why can’t I? Why is everything so heavy for me? Who am I? What’s my life purpose, or do I even have one? Being alive hurts too much. I’m just a burden for everyone. I can’t do anything. I’m not clever enough, not good enough, not pretty enough, not skinny enough. No talents, no future. Everybody hates me. My existence would make no difference. Will I get married someday? But I’m afraid of marriage. And if I do, will my husband cheats on me? Will I die young? By suicide, or by illness? Look at those scars. Disgusting, aren’t they? And so I am. 

My mind is like a never ending train. There’s no time to stop. My diesel has run out, but still, it won’t stop. I tell it to stop, but the brake has been broken. It eats my soul, my energy, my life as it forces to keep going. I don’t know how long I can hold on. Maybe I need to kill myself soon. Because to stop this never ending train in my head, I have to break the engine.

Senin, 25 September 2017

Lorn

LORN
adj: /lawrn/
lost, ruined, undone.



Ah, lagi-lagi rasa sakit ini lagi. Rasa sakit yang begitu familiar bagiku. Rasa sakit yang menghantuiku setiap saat; pagi, siang, sore dan malam tanpa jeda. Membuat dadaku berdenyut tak karuan, yang herannya belum membuatku lenyap karena denyutannya yang semakin lama semakin menyakitkan. Rasa sakit yang tidak lagi membuatku dibanjiri air mata, melainkan rasa sakit yang membuatku menatap kosong pada dinding di hadapanku pada malam-malam yang aku lalui seorang diri. Rasa sakit yang aku kenali sebagai sesuatu yang aku sebut kehilangan.

Lagi-lagi, aku kehilangan. Kehilangan seseorang yang sebelumnya mendampingi kesendirianku. Aku tau,  tidak ada yang abadi. Tidak dengan cinta, tidak dengan kekayaan, pun tidak dengan kebahagiaan. Mereka semua hanya dipinjamkan untuk kamu nikmati sebentar, sebelum akhirnya alam memintanya kembali daripadamu. Sadarilah, segala yang di dalam dunia ini memiliki tenggat waktu masing-masing. Pada dasarnya, setiap manusia akan mengalami kehilangan. Dan sialnya, aku termasuk manusia yang mengalami kehilangan lebih banyak dari manusia lainnya. Kahilangan bukan hal yang baru bagiku, aku sudah terbiasa dengan itu. Namun, kehilangan sesuatu yang baru aku sadari saat sosoknya telah pergi adalah sesuatu yang lain. Kehilangan untuk sebuah rasa yang belum berhasil ku identifikasi bukan keahlianku. Sebelumnya, rasa itu tidak pernah hadir. Jantungku tidak berdegup kencang saat dia disisi, perutku tidak dipenuhi kupu-kupu saat bibir lembutnya menyentuh bibirku. Tetapi mungkin rasa itu hadir dalam diam dan terselimut sesuatu yang aku kenali sebagai rasa takut. Takut, untuk kembali membuka hati. Takut bahwa segalanya hanya mimpi dan pada saat yang ditentukan dia akan kembali direnggut pergi dariku. Rasa takut yang menenggelamkanku namun selama ini membuatku bertahan hidup. Dan sekarang, rasa takut itu menyisakan penyesalan tak berujung saat sosoknya kini sudah berada di seberang. Tak terlihat, tak terjangkau. Tidak bisa ditemui dimanapun.

Hai kamu, yang mungkin sudah berada di dunia yang jauh lebih baik dari dunia yang aku tinggali. Bahagiakah kamu? Bisakah kamu mendengar isi hatiku dari sana? Konon katanya, manusia yang sudah terpisah dari raganya bisa bebas mengamati manusia lainnya. Perbuatannya, pikirannya, tingkah lakunya. Bisakah? Karena dengan memastikan kamu mengetahui perasaanku yang sebenarnya, aku bisa merelakan kehilangan kali ini.
Seandainya kamu mengetahuinya, bersediakah kamu berbaik hati memberiku tanda? Seandainya kamu bahagia, maukah kamu mengingatku sebagai kenanganmu yang manis? Seandainya hari itu aku mengakui perasaanku, mungkinkah kamu masih disini?


 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design