Minggu, 30 Juli 2017

Sakitnya Akan Berlalu



Tidak ada satupun rasa sakit di dunia ini yang tidak dapat ditanggung manusia. Rasa sakit itu hanya aka nada sementara sebelum kemudian berlalu. Aku meyakini itu untuk setiap rasa sakit yang aku rasakan. Atau, yang akan aku rasakan.

Aku bilang aku sakit hati saat mengalami patah hati pertamaku. Bahkan mereka bilang rasanya seperti tidak bisa hidup tanpa pria itu. Mungkin, awalnya memang seperti itu. Lalu hari berganti menjadi bulan dan bulan berganti menjadi tahun, nyatanya aku masih hidup di sini. Bahkan melupakan rasa sakit tersebut. 

Aku menangis karena sakit yang mendera tanganku saat tulangku patah. Saat itu aku mengumpat dan bersumpah aku tidak kuat menahan rasa sakitnya. Namun nyatanya sakit itu hilang dalam hitungan minggu dan tanganku kembali menjadi sedia kala, tanpa sedikitpun teringat akan rasa sakitnya.

Aku menunjukkan kekecewaanku saat mendapati ayah yang menjadi idolaku berselingkuh dengan wanitanya. Aku pikir aku tidak bisa hidup dalam kesakitan semacam itu. Aku merasa terkhianati dan hidup dalam drama yang dilakoni ayahku. Namun lambat laun aku tidak lagi merasakan sakit akan hal itu seolah perselingkuhan adalah hal wajar yang dilakukan para orangtua. 

Lambat laun aku mengerti bahwa sakit tidak dapat dihilangkan dalam kehidupan manusia. Dan nyatanya, seluruh rasa sakit dapat manusia tanggung. Bahkan aku mulai berpikir bahwa “sakit” hanyalah sebuah sugesti. Sakit tidak bisa membuatmu mati. Sugesti akan rasa sakit itulah yang mampu membuatmu mati.

Well, lihat, aku manusia tanpa rasa takut akan sakit. Seluruh sakit bisa aku tanggung. Begitu juga rasa sakit yang akan muncul setelah ini. Saat darah mengalir melalui jalur yang telah aku bentuk di kedua pergelangan tanganku. Saat rasa menyengat muncul seiring tetesan darah berwarna merah pekat menghiasi seprai putih gadingku. Saat aku merasakan jantungku berhenti memasok darah menuju paru-paruku. Saat aku merasakan pandanganku mengabur dan tubuhku mulai kehilangan jiwanya. Rasa sakitnya pasti akan berlalu.

PULANG



“Aku ingin pulang”, kataku untuk sekian kalinya padamu. Aku bisa melihat kerutan di dahimu pertanda bingung pada wajahmu yang begitu dekat denganku.

“Pulang kemana? Kita sudah di rumah kita.”, katamu dengan suara yang bertahun-tahun membuatku jatuh cinta.

Aku diam. Tidak berniat menjawab pertanyaanmu. Kamu membelai bahu telanjangku sebelum akhirnya mengecup bibirku pelan. Sekali. Dua kali. Hingga kecupan berubah menjadi lumatan. Lagi-lagi pikiranku menerawang di tengah gairahku. Apakah kamu mencium mereka, -wanita wanitamu di luar sana-, sama lembutnya dengan caramu menciumku?

“Bagimu, rumah itu apa?”, tanyaku lagi. Kamu terdiam.

“Rumah? Tempat kita tinggal sekarang? Bangunan yang melindungi kita dari hujan dan panas?”, jawabku dengan lirikan jahil khas dirimu. Aku memukul bahumu pelan sebelum kamu menangkap tanganku dan membawanya ke dalam tangan hangatmu. Membuatku lagi lagi bertanya, apakah mereka juga menikmati hangatnya tanganmu?

“Kamu tau bukan itu maksudku!”, rajukku. Kamu tertawa, kemudian terdiam. Tidak perlu berpikir untuk dapat mengetahui bahwa pikiranmu sedang berkelana. Mencari arti rumah yang sebenarnya bagimu. Tidak sulit menebakmu, terlebih aku sudah mengenalmu nyaris seumur hidup. Aku menunggu. Menunggu pikiranmu mendapatkan jawaban yang aku inginkan. Yang aku butuhkan. Jawaban terakhir yang akan menentukan kebersamaan kita ke depannya.

“Aku tidak tahu”, jawabmu lirih. Matamu menatapku dengan tatapan itu lagi. Tatapan memohon maaf. Dan aku tau untuk apa maaf itu. Karena kamu masih belum berhasil mencintaiku bahkan setelah usaha kerasmu tahun-tahun belakangan ini. Karena kamu masih saja memandangku sahabat terbaikmu alih-alih istrimu. 

Aku mengulas senyum susah payah. Di balik mata itu, aku tau jawabanmu. Saat kamu menjawab tidak tahu, aku melihat matamu menerawang begitu jauh. Menegaskan rumahmu adalah di jalanan yang berbeda. Di ranjang wanita yang berbeda setiap malamnya. Rumahmu berada di langit yang berganti-ganti. Tidak pernah menetap. Sama seperti hatimu. Mungkin ini karmaku karena aku memisahkanmu dengannya saat itu, saat rumahmu, tempatmu untuk pulang, hanyalah dia. Hingga sekarang kamu tidak memiliki “rumah”. Hingga sekarang kamu memutuskan berkelana. Mencari tempatmu kembali. Sebelum menemukan kamu tidak akan pernah menemukan tempat untuk pulang dimanapun. Bahwa kamu merasa pulang dengan berada jauh dari jangkauanku. Dan dengan hilangnya rumahmu, akupun kehilangan rumahku. Aku tidak tau lagi kemana aku harus pulang.

Kamu. Tadinya kamu rumahku. Tempatku untuk pulang.Ya, hanya tadinya. Saat kita masih bersahabat tanpa cinta sialan yang muncul di hatiku. 

“Aku pergi sebentar”, kataku. Atau mungkin selamanya, lanjutku dalam hati.

Aku melepaskan diri dari rangkulanmu dan mengenakan kembali pakaian yang kamu tanggalkan dariku semalam. Kamu menatapku, aku merasakannya dari balik punggungku. 

“Kamu tidak akan kembali lagi kali ini, bukan?”, tanyamu lirih. 

Aku mengangguk pelan.

“Aku rindu rumah. Aku ingin pulang”
 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design