Tidak ada satupun rasa sakit di dunia ini yang tidak dapat
ditanggung manusia. Rasa sakit itu hanya aka nada sementara sebelum kemudian
berlalu. Aku meyakini itu untuk setiap rasa sakit yang aku rasakan. Atau, yang
akan aku rasakan.
Aku bilang aku sakit hati saat mengalami patah hati
pertamaku. Bahkan mereka bilang rasanya seperti tidak bisa hidup tanpa pria
itu. Mungkin, awalnya memang seperti itu. Lalu hari berganti menjadi bulan dan
bulan berganti menjadi tahun, nyatanya aku masih hidup di sini. Bahkan melupakan
rasa sakit tersebut.
Aku menangis karena sakit yang mendera tanganku saat
tulangku patah. Saat itu aku mengumpat dan bersumpah aku tidak kuat menahan
rasa sakitnya. Namun nyatanya sakit itu hilang dalam hitungan minggu dan
tanganku kembali menjadi sedia kala, tanpa sedikitpun teringat akan rasa
sakitnya.
Aku menunjukkan kekecewaanku saat mendapati ayah yang
menjadi idolaku berselingkuh dengan wanitanya. Aku pikir aku tidak bisa hidup
dalam kesakitan semacam itu. Aku merasa terkhianati dan hidup dalam drama yang
dilakoni ayahku. Namun lambat laun aku tidak lagi merasakan sakit akan hal itu
seolah perselingkuhan adalah hal wajar yang dilakukan para orangtua.
Lambat laun aku mengerti bahwa sakit tidak dapat dihilangkan
dalam kehidupan manusia. Dan nyatanya, seluruh rasa sakit dapat manusia tanggung.
Bahkan aku mulai berpikir bahwa “sakit” hanyalah sebuah sugesti. Sakit tidak
bisa membuatmu mati. Sugesti akan rasa sakit itulah yang mampu membuatmu mati.
Well, lihat, aku manusia tanpa rasa takut akan sakit. Seluruh
sakit bisa aku tanggung. Begitu juga rasa sakit yang akan muncul setelah ini. Saat
darah mengalir melalui jalur yang telah aku bentuk di kedua pergelangan
tanganku. Saat rasa menyengat muncul seiring tetesan darah berwarna merah pekat
menghiasi seprai putih gadingku. Saat aku merasakan jantungku berhenti memasok darah menuju paru-paruku. Saat aku merasakan pandanganku mengabur dan
tubuhku mulai kehilangan jiwanya. Rasa sakitnya pasti akan berlalu.