Senin, 17 Desember 2018

A Place Called Mind


I lost my tempo. Got lost, in place where I’ve been recently but still never know the way to get out.

In a place called mind.

My mind has many branches. At the same time, it could think about how I love God and the other branch thinks how I hate life. At the same time, feel like I am blessed but the other feels I am dying. Think I’m pretty and the other side think I’m ugly. Happy but sad. Full but empty. 

My mind manipulates everything, a lot, almost every time. It makes you feel like you are hated by everyone just because a person criticizes you. It makes you feel nowhere in this world you’re belong just because you don’t fit well in a community. It makes you feel guilty even you’re not doing something wrong. Hopeless when you have many choices. Pity when you have everything you need. 

My mind makes me feel empty when I have everything I need in life. It makes me think I’m worthless while in fact I'm not. It makes me feel I’m too complicated to be loved when everybody loves me, and makes me feel lonely even when I’m surrounded by people. 

I can’t control my mind anymore. It’s not my mind in me, but it’s me in my mind. I can’t get out, I have no pace. Always pick the wrong way so that I got a little further. And now, even trying feels so tiring. 

I scream for help in silence and no one is care enough to hear. I raise my hand in darkness and no one is sensitive enough to see. And finally, my mind is laughing at me. It told me no one can save me, forever will I feel this way.

So I stop trying. I'm letting myself being controlled by it. I stop seeking help. Hope is not within me anymore.
I’m drowning, deeper and deeper, in a place called mind.

Perihal Melepaskan


Terkadang, apa yang aku inginkan memang bukan yang aku butuhkan.

Aku begitu menginginkan kamu, dan menghabiskan banyak malam untuk memikirkan kemungkinan jika kita bersama. Tidak, aku tidak akan bilang kita cocok. Ataupun saling melengkapi. Karena kenyataannya, kamu jauh dari teman hidup yang aku harapkan. Tetapi atas perasaan yang dulu kusebut cinta, yang sekarang terpampang sebagai obsesi, aku memaksakan diri bersamamu.

Bersamamu begitu sulit. Entah berapa kali hatiku terdengar retak karena abaimu. Atau berapa kali kamu kembali setelah pergi beberapa saat. Juga sikapmu yang tak pernah terbaca, hingga aku tidak tau, apa aku telah mengenal dirimu yang sebenarnya?

Bersamamu begitu menyakitkan. Aku harus rela membagimu dengan seseorang yang terlebih dahulu ada. Aku harus rela kamu tinggalkan demi dia yang sedang kembali. Aku harus memperbesar sabarku tatkala kamu muncul tidak tepat waktu karena menghabiskan waktu dengannya.

Aku biarkan tanganku kamu genggam usai kamu menggenggam tangannya, juga ku berikan bibirku untuk kamu kecup usai kamu melumat bibirnya. Aku tinggalkan moral yang aku junjung tinggi demi kamu, seseorang yang bahkan aku tau tidak mungkin menjadi masa depanku.

Percayalah, ribuan kali terpikir untuk mengakhiri ketidakjelasan ini denganmu. Namun tiap kali aku ingin mengakhiri, kamu selalu kembali. dan aku begitu lemah untuk mengakhiri disaat segalanya baik-baik saja. Kamu membuatku berpikir ada sesuatu di antara kita, sesuatu yang mati-matian kita berdua sangkal. Kemudian setelahnya, membuatku berpikir tidak pernah ada kata “kita” selama ini.

Tetapi saat ini, tampaknya kita sudah benar-benar mencapai titik akhir. Titik dimana tidak lagi ada jalan bagi kita untuk ditempuh. Titik dimana tidak ada lagi halaman untuk mengisi kisah kita. Demi aku dan bahagiaku, aku harus melepaskan kamu.

Iya, sekali lagi, demi aku dan bahagiaku, bukan demi kamu dan bahagiamu. Aku putuskan untuk kehilangan untuk kemudian mendapatkan. Aku putuskan untuk membiarkan hatiku patah untuk kemudian sembuh. 

Pergilah, kembali sepenuhnya ke sisinya. Kusadari sesuatu yang aku miliki secara tidak adil tidak akan benar-benar menjadi milikku. Pada akhirnya aku harus melepaskanmu, menyaksikan kepergianmu, mengembalikanmu ke tempatmu seharusnya berada.

Jumat, 07 Desember 2018

Nikmati Sakitmu


Bukankah memang begitu polanya?

Kamu bertemu, untuk kemudian berpisah.
Kamu tertawa karenanya, untuk persiapan tangismu.
Kamu diberinya rasa aman, untuk nantinya disakiti.
Ayolah, kamu sudah terbiasa dengan ini. Mengapa kamu memperbesarnya kali ini?
Lepaskan saja dia, tunggu apa lagi?

Memang, malam-malam penuh tangis akan terulang. Kamu akan kembali berjuang melawan dirimu dan pikiranmu sendiri, kembali mempertanyakan dimana letak salahmu, juga kembali mempertanyakan tidak layakkah kamu untuk dicintai. 

Juga, hari-hari kosong menyedihkan tanpa dirinya pun, akan terulang. Kamu akan berjuang menahan air mata untuk tiap kenangan yang terlintas, kamu akan berhenti beraktivitas, -bahkan berhenti bernafas-, untuk sepersekian detik, demi meresapi remuk redamnya hatimu. 

Tetapi, bukankah segalanya pernah dan telah kamu lewati? Dan nyatanya, kamu masih tegak berdiri.

Jangan, jangan lawan rasa sakitnya. Nikmati. Terima saja semua pukulan tak kasat mata di dadamu, biarkan pipimu dialiri air mata kesakitanmu, -mungkin juga air mata rindumu-.

Nikmati segalanya, hingga tanpa kamu sadari, sakitnya telah berlalu. Nikmati hingga tanpa kamu sadari, dirinya telah terlupakan.

Dan pada titik itu, seperti yang sebelum-sebelumnya, kamu akan kembali mengerti, bahwa bukan dia yang kamu cintai. Wanita sepertimu, serusak kamu, tidak bisa mencintai seseorang. Kamu hanya mencintai perasaan sesaat yang dia timbulkan dalam dirimu. Perasaan aman, perasaan terlindungi, perasaan nyaman. Dan saat segalanya berakhir, kamu bahkan akan lupa bahwa kamu pernah merasakan sakit.

 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design