Oh astaga, saat saat itu masih terekam jelas di benakku. Tak
peduli seberapa sulit usahaku untuk melupakannya, kenangan hari itu tidak bisa
hilang.
Kamu berdiri di depan pintu rumahku, dengan jas hitam yang
baru saja kamu beli. Sudahkah aku mengatakan betapa tampannya kamu hari itu?
Kamu mengulurkan tanganmu untuk kugenggam, jenis genggaman yang jika bisa ingin
kumiliki selamanya. Jika bisa.
Aku heran, kemana perginya motor kesayanganmu? Karena kali
ini mobil papamu lah yang terparkir di depan rumahku.
“Aku tidak mau make up dan rambutmu rusak karena angin
nakal”, jelasmu saat ku tanya.
Dengan tanganku di dalam genggamanmu, kita berdua memasuki
tempat yang sudah disulap seperti negeri dongeng. Lampu-lampu terang bernuansa
gold terpapar setidaknya tiap 1 meter. Bunga-bunga indah yang sudah dipesan
jauh-jauh hari memenuhi ruangan tersebut. Lagu-lagu yang diputar membuat
suasana negeri dongeng lebih terasa. Ah, aku tidak baik dalam berkata-kata. Aku
tidak bisa mendeskripsikan tempat itu dengan baik. Intinya, sempurna.
Saat waktunya tiba untuk berdansa, kita hanya bertatap
tatapan menahan tawa. Pasalnya, kita sudah membicarakan ini sebelumnya bukan?
Bahwa tidak ada satupun dari kita yang bisa berdansa. Namun saat saat ini hanya
terjadi sekali seumur hidup, mengapa kita tidak mencoba? Akhirnya, setelah
beberapa menit melihat pasangan lain, kita memutuskan untuk ikut berdansa. Tangan
kirimu dengan lembut memeluk pinggangku, dan tangan kananmu bertaut dengan
tangan kananku. Hasil mencontek pasangan lain. Kamu memberi aba-aba. Kiri.
Kanan. Maju. Mundur. Astaga, saat yang lain berdansa dengan suasana romantis,
aku tidak tau apa kita bahkan layak disebut berdansa. Kita hanya tertawa tanpa
henti. Dengan kaki yang saling menginjak. Irama musik sudah tidak lagi penting.
Kita hanya bergerak dan tertawa. Hingga perutku rasanya sakit dan entah
membungkuk beberapa kali untuk menahan tawa.
“Aku rasa kita bisa menciptakan jenis tarian baru”, katamu
di sela tawamu kala itu.
Anehnya, aku menikmatinya. Aku menikmati tangan nakalmu yang
terkadang merambat lembut menyusuri punggungku. Aku menikmati kecupan kecupan
kecil yang kamu daratkan di kening dan pipiku. Kita tertawa seperti tidak ada
hari esok. Kita berinteraksi seperti hanya kita di ruangan itu. Kamu melihatku
sebagai gadis tercantik di ruangan itu, dimana bahkan aku tidak ada apa-apanya
dibandingkan gadis lain. Betapa sempurnanya kita jika bersama bukan?
Seperti halnya Cinderella, kita memiliki batas waktu, bukan?
Kita tidak bisa bahagia selamanya. Dan setelah malam dongeng itu, pertanyaanku
hanya satu: Kemana perginya jiwa-jiwa yang mati?
Namun tidak semua tanya memiliki jawab. Sama seperti halnya
tidak semua rindu memiliki obat. Pada akhirnya manusia hanya bisa berharap. Dan
harapku cuma satu: andai saja kita diberi kesempatan bertemu, maukah sekali
lagi kamu berdansa denganku?