Minggu, 19 Februari 2017

Last Dance



Oh astaga, saat saat itu masih terekam jelas di benakku. Tak peduli seberapa sulit usahaku untuk melupakannya, kenangan hari itu tidak bisa hilang.

Kamu berdiri di depan pintu rumahku, dengan jas hitam yang baru saja kamu beli. Sudahkah aku mengatakan betapa tampannya kamu hari itu? Kamu mengulurkan tanganmu untuk kugenggam, jenis genggaman yang jika bisa ingin kumiliki selamanya. Jika bisa.

Aku heran, kemana perginya motor kesayanganmu? Karena kali ini mobil papamu lah yang terparkir di depan rumahku.

“Aku tidak mau make up dan rambutmu rusak karena angin nakal”, jelasmu saat ku tanya.

Dengan tanganku di dalam genggamanmu, kita berdua memasuki tempat yang sudah disulap seperti negeri dongeng. Lampu-lampu terang bernuansa gold terpapar setidaknya tiap 1 meter. Bunga-bunga indah yang sudah dipesan jauh-jauh hari memenuhi ruangan tersebut. Lagu-lagu yang diputar membuat suasana negeri dongeng lebih terasa. Ah, aku tidak baik dalam berkata-kata. Aku tidak bisa mendeskripsikan tempat itu dengan baik. Intinya, sempurna.

Saat waktunya tiba untuk berdansa, kita hanya bertatap tatapan menahan tawa. Pasalnya, kita sudah membicarakan ini sebelumnya bukan? Bahwa tidak ada satupun dari kita yang bisa berdansa. Namun saat saat ini hanya terjadi sekali seumur hidup, mengapa kita tidak mencoba? Akhirnya, setelah beberapa menit melihat pasangan lain, kita memutuskan untuk ikut berdansa. Tangan kirimu dengan lembut memeluk pinggangku, dan tangan kananmu bertaut dengan tangan kananku. Hasil mencontek pasangan lain. Kamu memberi aba-aba. Kiri. Kanan. Maju. Mundur. Astaga, saat yang lain berdansa dengan suasana romantis, aku tidak tau apa kita bahkan layak disebut berdansa. Kita hanya tertawa tanpa henti. Dengan kaki yang saling menginjak. Irama musik sudah tidak lagi penting. Kita hanya bergerak dan tertawa. Hingga perutku rasanya sakit dan entah membungkuk beberapa kali untuk menahan tawa.

“Aku rasa kita bisa menciptakan jenis tarian baru”, katamu di sela tawamu kala itu.


Anehnya, aku menikmatinya. Aku menikmati tangan nakalmu yang terkadang merambat lembut menyusuri punggungku. Aku menikmati kecupan kecupan kecil yang kamu daratkan di kening dan pipiku. Kita tertawa seperti tidak ada hari esok. Kita berinteraksi seperti hanya kita di ruangan itu. Kamu melihatku sebagai gadis tercantik di ruangan itu, dimana bahkan aku tidak ada apa-apanya dibandingkan gadis lain. Betapa sempurnanya kita jika bersama bukan?

Seperti halnya Cinderella, kita memiliki batas waktu, bukan? Kita tidak bisa bahagia selamanya. Dan setelah malam dongeng itu, pertanyaanku hanya satu: Kemana perginya jiwa-jiwa yang mati?

Namun tidak semua tanya memiliki jawab. Sama seperti halnya tidak semua rindu memiliki obat. Pada akhirnya manusia hanya bisa berharap. Dan harapku cuma satu: andai saja kita diberi kesempatan bertemu, maukah sekali lagi kamu berdansa denganku?
 

 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design