Untuk bersaing dengan bayangnya, aku tidak akan pernah sanggup. Bagaimana mungkin aku bersaing dengan dia yang selalu ada bagimu?
Abai terhadap masa lalumu terasa mustahil. Kamu sendiri yang menempatkan bayangnya antara kita, sadar maupun tanpa sadar. Ya, aku mengerti. Bukan aku yang menemanimu kala susahmu. Yang mengangkatmu kala jatuhmu. Yang menguatkanmu kala lemahmu. Percayalah, aku ingin. Tetapi takdir baru mempertemukan kita sekarang. Dan kenyataan bahwa aku hanyalah orang baru yang hadir dalam hidupmu, tanpa tahu menahu lampaumu, cukup menyakitkan.
Tapi adilkah bagiku, seseorang yang katamu ingin kamu jadikan masa depanmu, dengan menempatkan bayangnya di antara kita? Atau mungkin, kamu tidak sadar tiap kali kamu menyebut namanya dalam tiap percakapan? Atau, kala kamu dengan polosnya bercerita mengenai dia dalam tiap pertemuan? Caranya tersenyum, manjanya terhadapmu, kebencianmu dengan air matanya.
Sadarkah kamu, hatimu jelas masih ada padanya? Mungkin aku hanya selingmu, pengobat tawarnya hatimu. Mungkin aku hanya tempat singgahmu, disaat jenuhmu bersamanya. Dan aku yakin, tanpa kamu sadari, dirinya yang kini terukir dalam rindumu.
Ku pikir aku sanggup, namun ternyata tidak. Kini waktu ku untuk kembali hilang, mundur dari hidupmu, menjadikan bayangnya kembali nyata dalam hidupmu. Karena nyatanya, tempatku bukan disampingmu.
Mungkin nantinya, -mungkin-, kamu akan sedikit merindukanku. Hanya sedikit. Atau merasa kehilanganku. Lagi, hanya sedikit. Tetapi tenang saja. Dirinya ada bagimu. Bersamamu. Selalu.
Sabtu, 27 April 2019
Jumat, 05 April 2019
Rumah
Pikirku,
kamu rumahku.
Tempatku
pulang. Tempatku berteduh, berlindung.
Tempatku
beristirahat, melepaskan penat serta sesak.
Tempatku
menjadi aku. Tempat dimana aku tanpa topengku.
Pikirku,
kamu rumahku.
Tempatku
menangis dan tertawa. Tempatku kecewa dan bahagia. Tempatku jatuh dan bangkit.
Tempatku
berkeluh kesah. Tempat ternyamanku.
Sungguh,
butuh waktu lama untuk menyadari bahwa bukan kamu rumahku.
Nyatanya,
kamu hanya tempat singgahku. Sementara, sesaat. Tidak bertahan lama.
Menetaplah,
pintamu. Mana bisa?
Adilkah
aku menempati rumah yang sejatinya milik orang lain, hanya untuk sebuah obsesi
yang kupikir adalah cinta?
Bisakah
aku tinggal di rumah yang bukan milikku, sementara di luar sana, rumahku yang
sesungguhnya menanti kedatanganku?
Kamu
bertanya mengapa. Jawabku, memang bukan kamu. Sesederhana itu.
Aku
harus berani hancur lebur meninggalkanmu, untuk bisa kembali utuh.
Aku
harus memilih terluka sedalam-dalamnya saat ini, untuk menemukan rumahku yang
sesungguhnya.
Demikian
pula kamu.
Karena
nyatanya, cinta bukan hanya mengenai nyaman dan aman.
Dan
nanti, saat aku menemukan rumahku dan kamu menemukan pemilikmu, semua sakit ini
akan berbayar.
Langganan:
Postingan (Atom)