Jumat, 12 Mei 2017

Wonderwall



Aku menatap tajam pria di hadapanku. Dia baru saja menumpahkan kopinya di kemejaku, menyebabkan kemeja putihku berubah warna menjadi cokelat. Dia menatapku dengan tatapan bersalahnya.

“Maaf, saya benar-benar ga lihat.”, katanya.

Aku menghela nafasku kencang. Ingin marah, namun tidak akan membuat perubahan apa-apa. Maka aku mengangguk dan berkata padanya untuk tidak merasa bersalah. Dia bersikeras membelikanku pakaian baru. Lokasi kami memang berada di sebuah coffee shop dalam sebuah mall besar. Karena dia memaksa, maka aku pun mengiyakan. Lagipula, lumayan, aku bisa mendapat baju baru gratis. Hey! Aku hanya mahasiswi rantau yang perlu menghemat. Jangan salahkan kelicikanku ini.

Kami berkeliling menuju department store besar, dan tidak perlu waktu lama untuk menemukan baju yang cocok dengan badanku. Aku mengucapkan terimakasih, dan kami pun berpisah.

Pertemuan itu tidak menjadi pertemuan terakhir kami. Ternyata, dia dosen baru di kampusku dan mengajar di kelasku. Sejak saat itu, kami sering keluar bersama. Dia dosen yang menyenangkan. Mampu membuat kami, -para mahasiswa-, mengerti dan mendengarkan penjelasannya tanpa rasa bosan. Berdiskusi dengannya menyenangkan, kami membahas isu-isu politik yang sedang mendunia. Dia sangat dewasa, membuatku kagum dia berhasil menjadi dosen di umurnya yang baru 28 tahun.

Setahun kedekatan kami, membuatku tau bahwa dia berasal dari sebuah panti yatim piatu di kota sebelah. Ayahnya meninggalkan dia dan ibunya sejak masih kecil, dan ibunya meninggalkannya di stasiun kereta api saat umurnya 7 tahun. Ia pernah mengamen di jalanan untuk mencari uang, pernah mencuri makanan juga mencopet, hingga sepasang suami istri kaya raya mengadopsinya sebagai anak. Bukannya mendapat kasih sayang yang ia butuhkan, ia ditelantarkan. Secara finansial, dia memang tidak kekurangan. Hanya saja kedua orangtua angkatnya ternyata sangat sibuk, hingga sangat jarang bertemu dengan dia. Membuat dia tumbuh tanpa mengenal apa itu kasih sayang.

Dia  diam saat sedang marah. Dia diam saat sedang senang. Dia tidak tau cara mengekspresikan perasaannya, termasuk cinta. Bahkan dia tidak tau apa itu cinta. Dia buruk dalam menunjukan perhatian-perhatian, hingga menunjukannya dengan cara yang cenderung aneh.  Dia sangat menutup diri, -awalnya-, dan sekalinya membuka diri, ia terlalu tergantung padaku. Hal ini membuatku ingin menangis, mengingat pria segagah dia (aku yakin dewa Yunani pun iri melihat ketampanannya), sekuat dia, memiliki hati yang rapuh.

Aku akan mengajarinya apa itu cinta. Aku mencintainya.

** 

Saya terdiam melihat kopi yang baru saja saya beli tumpah. Dia sungguh kecil, hingga saya tidak melihatnya saat saya membalikan badan. Dia memandang saya dengan tatapan tajam yang entah terlihat lucu di mata saya, dan saya segera mengucapkan maaf. Dia hanya menghela nafas dan meminta saya untuk tidak merasa bersalah. Namun, sebagai laki-laki, saya harus bertanggung jawab. Saya memaksanya untuk membelikannya baju baru, yang dia iyakan dengan senang hati.

Menurut saya takdir sedang bermain dengan saya. Ternyata dia salah satu murid di kampus tempat saya baru bekerja. Saya mengamatinya. Dia mahasiswi yang cukup aktif di kelas, hanya saja saya melihat dia sering mengantuk. Ekspresinya saat mengantuk, juga kepalanya yang seringkali seperti ingin jatuh saat tertidur, membuat saya mati-matian menahan tawa saya di kelas.
Ternyata, dia sangat cerdas. Kami sering berbincang mengenai isu politik, dan tidak saya sangka cara berpikirnya sungguh kritis dan luas. Ia tidak ragu memberi argument, juga statement yang ia yakini. Bagaimana bisa seorang gadis terlihat seperti anak-anak juga dewasa secara bersamaan? Saya tidak tau.

Baru kali ini saya merasa nyaman berdiskusi dengan seseorang. Saya jarang memiliki teman, saya hanya memiliki koneksi-koneksi yang terhubung dengan bisnis kecil-kecilan saya. Dan ternyata, rasanya tidak buruk untuk berdiskusi. Saya mengagumi bagaimana ia bisa terlihat kesal di suatu waktu, dan di waktu berikutnya ia segera bahagia hanya karena membeli es krim. Juga caranya mengekspresikan segala sesuatu yang bermain di kepala cantiknya. Dia tidak malu saat menginginkan sesuatu, juga tidak ragu-ragu marah jika saya berbuat salah. Dan tanpa sadar, saya nyaman bersamanya.

Dia mengajari saya untuk terbuka. Saya tidak tau kemarahan macam apa yang saya rasakan saat melihatnya dekat dengan pria lain, namun dia berhasil membuat saya mengeluarkan kemarahan itu, meski hanya dengan menghancurkan kaca dan berteriak. Setelahnya, dia memeluk saya, mengelus pelan pipi saya, lalu mengobati luka di tangan akibat pecahan kaca, dan seketika saya tenang. Bagaimana dalam tubuh semungil itu bisa meredakan amarah saya?

Saya tidak tau ini cinta atau bukan. Namun saya akan selalu di sisinya. Saya akan menjaganya.

Selasa, 09 Mei 2017

Stupidity



Kau melirik jam di ruang tamu mu, entah untuk yang kesekian kali. Kakimu menghentak-hentak, menandakan kamu sudah menunggu untuk waktu yang cukup lama. Berdiri, mondar mandir mengelilingi ruang tamu. Lalu duduk. Melihat ponsel untuk mencari notifikasi yang tidak kamu temukan sedari tadi. Mencoba menghubungi nomor yang kamu hubungi di luar kepala, hanya untuk mendengarkan suara operator sialan yang mengatakan nomor orang yang kamu cari sedang tidak aktif. 

Kamu mulai menangis. Entah karena khawatir, entah karena rindu, atau entah karena muak. Kamu berjanji akan membuat dia tau bagaimana lelahnya menunggu, bagaimana gelisahnya menunggu. Tanpa kamu sadari, kamu tertidur di sofa itu. Dan beberapa saat setelahnya, dia datang, membangunkanmu dari tidurmu. Wajahnya lelah, kemejanya berantakan, dengan bercak lipstick di kerahnya juga wangi manis dari tubuhnya. Kamu menyambutnya dengan air mata, mengambil tas dari tangannya, memintanya duduk, lalu melepaskan sepatu serta dasi darinya. Dia memandangmu penuh penyesalan, meminta maaf dan memeluk tubuhmu erat, seakan takut kehilanganmu. Lalu kejadian itu terlupakan.

Suatu kali, kamu ingin bekerja karena merasa bosan jika di rumah. Setelah perdebatan panjang dengan dia, akhirnya kamu diijinkan bekerja, meskipun di kantor yang sama dengan dia. Kamu memulai harimu dengan semangat, dan menikmati pekerjaanmu dengan sangat. Lalu seorang klien datang ke kantornya dan mengajakmu berbicara. Tampaknya, dia klien baru dan belum mengenal dia, hingga berani menggodamu dan mengajakmu keluar untuk makan siang. Kamu menolaknya, namun dia terlanjur melihat kamu berbicara dengannya. Sesampainya di rumah, kamu harus menerima kemarahan akibat cemburu butanya. Dia menampar pipi mulusmu hingga berdarah, lalu menjambak rambut yang biasanya dia puja. Dia memakimu dengan kata-kata tidak pantas, dan saat air matamu turun, dia tersadar. Dia mencium bibirmu lembut, meminta maaf. Kamu mengangguk dan mengelus kepalanya pelan. Dan segalanya kembali normal.

Bulan-bulan setelahnya, kamu sering dilanda rasa pusing juga mual terutama di pagi hari. Kamu melihat stok pembalutmu utuh, dan dengan berdebar kamu mengunjungi dokter kandungan. Air mata bahagia turun dari mata indahmu, akhirnya kamu hamil. Kamu mempercantik diri dan membeli lingerie seksi untuk membuat kejutan padanya. Kamu mematikan lampu rumah dan menyalakan lilin beraroma untuk menambah suasana. Dia tampak bingung, namun menikmati elusan demi elusan yang kamu lancarkan pada tubuhnya. Lalu, setelah kamu memuaskannya, kamu memberinya kabar bahagia itu. Dan reaksinya di luar ekspetasimu. Dia marah, sangat marah. Dia memaksamu untuk menggugurkan kandunganmu, karena ia hanya ingin dirimu. Dia hanya ingin berdua sampai tua nanti, tidak mau perhatianmu terbagi.

Untuk pertama kalinya, kamu melawan. Kamu pergi pagi-pagi sekali sebelum ia bangun, dan mengasingkan diri di sebuah tempat terpencil. Kamu merindukannya hingga sakit, namun kamu mencintai bayi di kandunganmu melebihi dirimu sendiri. Dan disitulah dia, mengetuk pintu kayu rumah kecil ini. Seharusnya kamu tau ia akan menemukanmu kemanapun kamu pergi. Kamu menenangkan degup jantungmu yang menggila, lalu membuka pintu itu, hanya untuk melihat dia yang jauh lebih kurus dari terakhir kamu melihatnya, lingkaran hitam di bawah matanya, juga jambang-jambang halus yang memenuhi wajahnya.  Dia menangis, berlutut memohon ampun, mengusap perutmu sambil terus mengecupnya dan mengucap kata maaf. Dan selanjutnya sudah pasti bisa ditebak.

Kamu menangis, kamu mengangguk, kamu mengusap kepalanya pelan, lalu menariknya berdiri untuk memeluknya.


 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design