Sabtu, 24 Desember 2016
Catatan si Pecundang
Aku tidak takut sendiri. Aku juga tidak takut sepi. Aku menyukainya, bahkan. Aku suka saat sendiri, tidak harus menghadapi manusia yang penuh kepura-puraan, termasuk diriku sendiri. Aku suka rasa sepi, saat aku dapat menikmati kelamku dalam diam.
Satu-satunya yang aku takuti, adalah adanya ketergantungan. Aku tidak suka saat aku merasa membutuhkan orang lain. Ketergantungan, membuatku merasa kehilangan kontrol akan diriku. Maka sebisa mungkin, aku membangun batas untuk diriku sendiri, untuk tidak pernah tergantung pada siapapun. Siapapun.
Tapi kamu keras kepala, bukan? Kamu, dengan kehidupan sempurnamu, datang dan menembus batas yang ku buat. Dan aku, seperti tersihir dengan semua kesempurnaanmu, menenggelamkan diriku secara suka rela padamu. Lambat laun, kamu menjadi pusatku. Aku, memikirkanmu dalam kesendirianku, memikirkanmu juga dalam sepiku. Masalah yang tadinya ku simpan sendiri, aku bagi denganmu, tanpa terkecuali. Kamu masuk dalam duniaku semudah membalikkan telapak tangan, ya? Hingga ketergantungan ini bertambah dan bertambah, aku menyadari, kamu sepenuhnya ada dalam duniaku, namun adakah aku dalam dunia sempurnamu? Kesadaran ini memukulku dengan telak. Aku, secara perlahan mencoba masuk ke duniamu, dan yang ku temukan di dalamnya membuatku terpaku. Akan betapa berbedanya duniamu dan duniaku. Duniaku, kelam. Hitam dan putih. Sedangkan milikmu penuh akan warna. Duniaku hanya mengenal sendiri dan sepi. Sedangkan kamu? Kamu memiliki semuanya dalam hidupmu. Teman, sahabat, penggemar. Semuanya. Hingga ku tebak, kamu tidak tau apa itu sendiri dan sepi. Aku, si gadis tanpa bakat. Dan kamu, pria dengan segudang talenta. Aku, si gadis pembenci hidup. Dan kamu, pria pencinta hidup. Kamu, satu satunya bagiku. Sedangkan aku, hanya salah satu bagimu. Aku merasa sangat kecil. Aku, seperti pungguk yang mencoba meraih bulan.
Maka, sebelum semuanya semakin dalam, ku putuskan untuk melepasmu. Mengeluarkanmu dari lingkaranku, dan membuat kembali benteng yang kamu tembus. Mengembalikan kamu ke tempat dimana kamu seharusnya berada. Kamu, akan kembali ke kehidupan sempurnamu tanpa aku di dalamnya, yang aku yakini, tidak berpengaruh apapun padamu. Akankah kamu mengingatku sebagai gadis menyedihkan? Ataukah mengingatku sebagai seorang yang tidak punya nama di hatimu? Atau bahkan.. tidak mengingatku sama sekali?
Sementara kamu kembali pada hidup sempurnamu, aku, akan kembali terperangkap pada kesendirian dan sepiku. Aku, akan tetap berada disini. Hidup hitam putihku. Hidup kelamku. Tempat teramanku.
Sabtu, 10 Desember 2016
from a daughter to her father
She came to our house, using her heels and asked me where you were. I asked did she have any business with you, and she said it’s about church stuffs. She came into our lives, and I heard you’re joking with our neighbor about how attractive she is. I saw how active you are now to go to our church’s events. I saw how glad you are now when there are choir practices. I saw how flirting you are whenever she’s around.
I watched every single expressions you made when your phone was on your hand. I used to know about everybody you were chatting with. I used to know about what did you do with your phone. Nothing to hide, no secrets. But now? You deleted all her chats before you went home. You changed her name in your contact, which made me laugh at how stupid you are to think that it worked. She called you every time you’re in office, she called you whenever mom was not around. She tried to build conversation with me and brother, without knowing that my brother and I know what she did with you behind us. She’s pretty kind as a neighbor, and I know she’s beautiful yet so cheerful. Just not like mom who has a fickle heart and heaviness in her head. She set my photo as her profile picture while my mom never did that. I know mom is not a good wife, nor a good mom, mom’s totally far away from that. She has everything that mom doesn't. But could she replace your 22 years wife?
I am 18 years old now, on my way to 19. I always got the first to third rank at school. I am one of scholarship students in university. And yet you think I was naïve enough to believe you both just friend.
And you will never know. You will never understand how damaging it is for a daughter who’s having major trust issues. Not in million years I thought you could be this selfish. The emotional pain and resentment I feel towards you are real. I used to think that you’re the kindest man alive, mom is the one who supposed to be lucky for having you. I used to think that one day, I wanna have a husband like you. You were the one I trust the most, you understand every piece of me, you always saved me from mom’s anger. You used to be my hero. But who knows, it’s all turned to you’d be the one who make me afraid of marriage, beside mom. And it all comes to this: none of the living could be trusted. Not your family, not your close friends, or not even yourself.
It surprised me for real that I still could feel angry for you. You should thank God I still feel those feelings for you. I once thought I am okay with that, but the wound is not completely healed. I hate the way you try to build conversation with me now, because not in a second I could see your face without thinking about your infidelity. All I wanna do now is walk away from you, because one side you look so happy than you ever was with mom, but your happiness tortures me. I will act like I know nothing, but forgive me if I become someone else. I'm no longer your little princess.
You’ve made your choice, so I get to make mine now.
Sincerely,
Your daughter
Sabtu, 12 November 2016
Coffee or Tea?
Coffee or tea?
Sebuah suara baritone menarikku secara paksa dari duniaku di laptop. Tak perlu waktu lama bagiku untuk menoleh pada suara yang menginterupsi aktivitasku. Dan aku, menemukan sesosok pria tinggi tegap dengan muka oriental, tersenyum ramah padaku.
“Pardon?”, tanyaku bingung. Pasalnya, aku tidak mengenal pria ini, bahkan pernah melihatnya pun tidak.
“Coffee or tea, Miss…” dia berhenti sejenak dan mengalihkan pandangannya pada banner nama di seragam sekolahku. “Maddelyne”, lanjutnya setelah menemukan apa yang dia cari.
“Do I know you?”, tanyaku, mengabaikan pertanyaan anehnya.
“No. But I know you.”, balasnya tenang seraya menarik kursi di hadapanku dan akhirnya duduk.
“Maddelyne Adiwijaya. Anak SMA Permata. Tiap pukul 3 sore duduk di sini, - pojokan Armani Café-, sibuk dengan laptopnya hingga pukul 5 sore, selama 2 tahun belakangan, dan selalu memesan Black Coffee.”, jawabnya tenang dengan senyum ramahnya. Aku melempar tatapan kesal padanya. Dia ini penguntit atau apa?!
“You’re annoying”, balasku marah. Selama 2 tahun ini, dengan perubahan sikapku menjadi Maddy yang sinis dan menyebalkan, belum ada satupun orang yang berniat berbasa basi denganku, jika tidak punya kepentingan. Bukan, bukan salah mereka. Aku yang membuat batas untuk mereka.
“I know. Just answer my question. Coffee, or tea?”
-------------
Dan begitu seterusnya selama 120 hari lamanya. Aku dating pukul 3 di café ini, duduk di tempat kesukaanku. Sibuk berkutat dengan dengan laptopku. Pukul 4.30, pria yang masih tidak kuketahui namanya, akan datang dan merecokiku dengan pertanyaan yang sama. Dan aku, masih tetap diam, sambil seskali melempar tatapan kesal jika dia mulai menjahili dan mengangguku. Dia bercerita tentang apapun. Kesukaannya pada hujan. Ketertarikannya pada basket. Ketakutannya akan ketinggian. Aku bingung, dia terlihat tidak punya beban. Selalu tenang, selalu ceria. Aku benci tawa lepasnya. Aku benci binar jahil dimatanya. Benci akan kesantaiannya terhadap hidup. Atau mungkin lebih tepatnya.. aku iri. Bagaimana bisa dia terlihat begitu hidup sementara aku.. kosong?
Hingga pada hari ke 121…..
“Coffee or tea?”, tanyanya, yang sudah menjadi sapaan pembuka khas pria ini. Aku menoleh, namun kali ini ada yang berbeda. Matanya masih sama. Senyumnya pun sama. Namun, pria ini begitu pucat, seperti tidak ada darah yang mengalir di wajahnya.
“Coffee”, jawabku tanpa sadar, lalu berdeham mengatasi jantungku yang tiba tiba saja berdetak lebih cepat, sebelum kemudian kembali fokus pada laptopku. Melalui ekor mataku, bisa kulihat kekagetan pria ini yang membuatku menahan tawa. Sepertinya dia menyadari hal itu, karena setelahnya dia menetralkan ekspresi wajahnya, menggaruk tengkuk yang kuyakini tidak gatal, kemudian duduk dan mulai bercerita untuk mengurangi rasa malunya. Dan akhirnya setelah 2 tahun terakhir, tawa pertamaku keluar.
Dan selana 120 hari berikutnya, ada yang berubah. Kehadirannya tidak lagi menggangguku. Dalam diam, aku mendengarkan segala ceritanya, dan terkadang tanpa sadar meresponnya dengan sekata dua kata.
“Kenapa kamu memilih kopi?”, aku menoleh. Dia tidak pernah bertanya apapun. Hanya bercerita. Aku diam sejenak, menimbang perlukah aku menjawab pertanyaannya?
“Karena kopi itu pahit”. Bisa kulihat kerutan dahinya yang menandakan dia sedang berpikir keras.
“Korelasinya? Kamu suka pahit?”
“Kopi dan hidupku, sama. Sama sama pahit.”, aku tidak tau mengapa aku memilih mengatakan ini padanya. Hanya saja, aku merasa aman dan nyaman.
“Jadi kamu menganalogikan hidupmu dengan kopi?”, tanyanya pelan. Aku mengangguk.
“Kopi yang pahit saja, bisa kamu sukai. Kenapa hidupmu tidak kamu sukai?”, tanyanya.
“Aku tidak bilang aku tidak suka hidupku!”, jawabku defensif.
“Tapi matamu mengatakan demikian!”, nadanya meninggi. Dapat kulihat sinar jahil dan senyum di matanya hilang, digantikan sesuatu yang lain. Amarah. Aku yakin itu amarah. Tapi mengapa dia harus marah?
“Ya. Aku benci hidupku. Jika boleh, aku mau tidak pernah dilahirkan saja. Jika boleh, aku ingin aku pergi dari dunia ini. Kenapa? Itu semua masalahku! Hubungannya denganmu apa?!”, jawabku marah, terpancing emosinya.
“Kenapa? Kamu pernah ditinggalkan? Dikhianati? Dicampakkan?”, tanyanya. Aku terdiam.
“Seharusnya kamu bersyukur. Kamu beruntung. Kamu sehat. Apa kamu tidak merasa egois? Diluar sana, banyak sekali pesakitan yang berjuang agar bisa hidup. Aku, harus menerima sakit yang luar biasa agar dapat menghindari kematian. Agar bisa hidup dengan normal. Dan kamu, yang diberi fisik sempurna, sehat tanpa cacat, berharap untuk mati?!”, teriaknya.
Aku terkejut akan kemarahannya. Otakku melambat, mencerna kata demi kata yang keluar dari mulutnya.
Kami berdua terdiam. Aku dengan keterkejutanku. Dia, dengan menormalkan nafasnya yang terengah, seraya sesekali mengernyit dan memegangi jantungnya.
“Pahami kata kataku. Bagaimana bisa kamu menyayangi orang lain nantinya jika kamu tidak bisa menyayangi dirimu sendiri?”. Aku diam.
“Aku pergi. Dan saat aku kembali, aku harap kamu sudah mengerti. Tunggu aku kembali”. Lalu dia berlalu. Meninggalkanku yang masih saja diam, tanpa tau makna kata “pergi” yang diucapkan pria itu.
Dan sesudahnya, semuanya berubah. Aku menata hidupku yang berantakan. Aku memaafkan yang tadinya kukira tak bisa dimaafkan. Aku mulai bersosialisasi lagi, dan pandanganku akan hidup pun berubah. Semuanya menjadi lebih baik, kecuali hubunganku dengan dia.
Sejak hari itu, dia seperti hilang ditelan bumi. Sosoknya tidak kutemui dimanapun. Meninggalkanku tanpa tau namanya, rumahnya, dan segala hal tentangnya. Namun aku tetap setia, menunggu kehadirannya di café, berharap dia menepati janjinya untuk kembali. Hingga hari berubah menjadi minggu, minggu berubah menjadi bulan, dan bulanpun menjadi tahun. Dan tidak seharipun aku absen dari café tersebut, bahkan ditengah kesibukan kuliahku. Cafe yang sama, tempat yang sama. Dengan aku, dan pesananku yang berbeda.
Sampai akhirnya, pada hari ke 600..
“Hello, Miss Maddy. So, coffee or tea?”
Jumat, 09 September 2016
Bisakah Aku Pergi?
"Help, I have done it again.
I have been here many times before.
Hurt myself again today.
And the worst part is there's no one else to blame"
Bisakah kalian diam sejenak? Bisakah kalian hentikan teriakan-teriakan kalian? Aku sudah bosan mendengarnya.
Bisakah kalian jangan berbicara jika tiap kata yang keluar hanya untuk menyakiti satu sama lain? Aku sudah muak.
Bisakah kalian berpisah saja? Aku lelah menghadapi kalian. Bertengkar dari waktu ke waktu. Menyesali 22 tahun yang telah kalian lewati bersama. Sibuk mencari kesalahan satu sama lain. Tidak ingatkah ada dua hati yang harus kalian jaga dalam rumah ini?
Aku takut. Sangat takut. Bahwa apa yang kalian lakukan membuatku takut untuk berkomitmen. Takut untuk menjalin hubungan. Aku takut aku menjadi tidak percaya arti sebuah ikatan. Arti sebuah kesetiaan. Arti sebuah pernikahan.
Aku takut kelak.. aku memilih untuk hidup sendiri. Terkukung oleh duniaku sendiri. Karena tampaknya, aku mulai menunjukkan gejala itu bukan?
Bisakah aku beristirahat sejenak? Bisakah aku lepas topengku sejenak? Aku ingin pergi. Aku ingin lari dari kenyataan. Aku ingin istirahat dari semua hal. Aku hampir tidak kuat lagi menahan segalanya sendiri. Aku hampir tidak kuat lagi berpura-pura kuat. Aku ingin bercerita, namun pada siapa? Teman? Malu. Aku tidak berani. Temanku melihatku sebagai sosok yang selalu ceria. Selalu banyak bicara. Banyak tingkah. Mereka tidak pernah melihat sisiku yang ini.
Bawa aku pergi, Tuhan. Beri aku istirahat. Sejenak saja, hanya sejenak. Bawa aku lari, yang jauh. Sangat jauh dari sini. Beri aku waktu untuk memejamkan mata, walau hanya sejenak. Lalu saat waktu itu habis, aku berjanji akan memakai topengku lagi..
Bisakah kalian diam sejenak? Bisakah kalian hentikan teriakan-teriakan kalian? Aku sudah bosan mendengarnya.
Bisakah kalian jangan berbicara jika tiap kata yang keluar hanya untuk menyakiti satu sama lain? Aku sudah muak.
Bisakah kalian berpisah saja? Aku lelah menghadapi kalian. Bertengkar dari waktu ke waktu. Menyesali 22 tahun yang telah kalian lewati bersama. Sibuk mencari kesalahan satu sama lain. Tidak ingatkah ada dua hati yang harus kalian jaga dalam rumah ini?
Aku takut. Sangat takut. Bahwa apa yang kalian lakukan membuatku takut untuk berkomitmen. Takut untuk menjalin hubungan. Aku takut aku menjadi tidak percaya arti sebuah ikatan. Arti sebuah kesetiaan. Arti sebuah pernikahan.
Aku takut kelak.. aku memilih untuk hidup sendiri. Terkukung oleh duniaku sendiri. Karena tampaknya, aku mulai menunjukkan gejala itu bukan?
Bisakah aku beristirahat sejenak? Bisakah aku lepas topengku sejenak? Aku ingin pergi. Aku ingin lari dari kenyataan. Aku ingin istirahat dari semua hal. Aku hampir tidak kuat lagi menahan segalanya sendiri. Aku hampir tidak kuat lagi berpura-pura kuat. Aku ingin bercerita, namun pada siapa? Teman? Malu. Aku tidak berani. Temanku melihatku sebagai sosok yang selalu ceria. Selalu banyak bicara. Banyak tingkah. Mereka tidak pernah melihat sisiku yang ini.
Bawa aku pergi, Tuhan. Beri aku istirahat. Sejenak saja, hanya sejenak. Bawa aku lari, yang jauh. Sangat jauh dari sini. Beri aku waktu untuk memejamkan mata, walau hanya sejenak. Lalu saat waktu itu habis, aku berjanji akan memakai topengku lagi..
Rabu, 07 September 2016
Bukankah Lebih Baik Seperti Ini?
Dan disinilah kita.. di café dekat sekolah kami yang dulu, tempat kami biasa bertemu. Saling menatap penuh perhitungan, mengukur amarah masing masing. Kamu mendesah pelan seraya mengacak rambut hitam pekatmu yang terlihat lembut, dan gerakan itu –sialnya-, masih terlihat seksi di mataku yang berselimutkan amarah. Kemeja kotak kebanggaanmu terlihat berantakan, menjelaskan betapa sibuknya kamu hari ini.
“Apa lagi kali ini?”, tanyanya lelah. Nada lelah yang membuat emosiku semakin naik ke permukaan.
“Tanyakan itu pada dirimu. Apa yang kamu lakukan hari ini.”, balasku datar. Dia menghela nafasnya pelan seraya meminum green tea latte di hadapannya.
“Aku hanya mengerjakan tugas kelompokku, demi Tuhan, dan dosen killer itu sialnya memasangkanku dengan perempuan itu. Tidakkah kamu mengerti?”, jelasnya. Aku menahan sesak di hati.
“Bukankah tugas kelompok itu sudah selesai dari kemarin? Mengapa masih bertemu? Dan mengapa di apartemen kamu?”, teriakku, mulai kehilangan topeng datarku. Dia terdiam sejenak, berusaha mencari alibi, tentu. Tak lama kedua mata almond kecoklatan itu menatapku tajam. Ya, tatapan itu. Tatapan seolah dia berkuasa atasku. Tatapan bahwa aku tidak berhak menentangnya. Aku membenci tatapan itu, sekaligus mengaguminya.
“Tidakkah kamu mengerti?! Aku dan dia hanya teman! Tidak bolehkah aku berteman dengan perempuan? Apa menjalin hubungan denganmu berarti aku harus memusuhi perempuan selain kamu? Iya?”, dia membalas kemarahanku dengan sangat baik. Kedua tanganku yang berada di pangkuanku mulai terkepal. Mataku memanas, sebisa mungkin menjaga harga diriku di depan lelaki ini. Sudah cukup aku menjadi wanita cengeng yang hanya bisa menangis. Belum berhasil mengendalikan diriku sepenuhnya, dia melanjutkan kemarahannya.
“Aku selalu mengusahakan menjadi yang terbaik untuk kamu. Sahabat yang baik, pacar yang baik. Aku berusaha berubah untuk kamu. Tapi apa yang aku dapat? Kemarahanmu setiap saat? Marah hanya untuk hal hal sepele yang aku tak mengerti. I’m on my way untuk berubah menjadi yang kamu mau, tapi kamu ga pernah kasih pengertian”. Butiran kristal bening mulai berjatuhan tanpa sempat ku tahan. Dan sialnya, semakin berjatuhan saat dia dengan tenangnya hanya menatapku tanpa berusaha menghapus air mataku seperti yang dia lakukan, dulu.
“Tidak cukupkah hanya aku?”, tanyaku dengan suara bergetar. Aku bisa saja segera meminta maaf dan memakluminya, seperti biasa. Namun aku ingin tau sejauh apa ia bisa mengelak dariku. Pria itu terdiam. Dari wajahnya aku tau, dia berpikir keras. Entah apa yang dia pikirkan. Saat aku mulai sibuk dengan pikiranku, ia kembali membuka pembicaraan.
“5 tahun.. 5 tahun kita bersama. Dan indahnya hanya 2 tahun di awal”, katanya pelan, matanya terarah ke bawah meja, enggan menatapku. Hatiku teremas sakit. Benarkah? Dari10 tahun persahabatan kami, dan 5 tahun sejak kami memilih menjadi sepasang kekasih, hanya 2 tahun kebahagiaan yang ia rasakan? Lantas, 3 tahun ini apa? Siapa aku di matanya? Siapa dia? Dia bukan dia yang ku kenal. Bukan dia yang kucinta. Seakan belum puas mengoyak hatiku, ia melanjutkan.
“Aku berusaha pertahanin hubungan ini, percayalah. Tapi nyatanya kita ga saling melengkapi. Aku air dan kamu minyak. Aku bensin, dan kamu menjadi apinya. Tiap ada kesempatan kamu terkesan mencari masalah denganku. Dan tampaknya, perasaanku padamu perlahan terkikis dari pertengkaran pertengkaran yang entah sudah ribuan kali kita lewati”. Ia tertawa hambar. Sementara aku semakin tersedak dengan air mataku. Perasaannya padaku sudah menghilang? Sejak kapan? Tampaknya aku benar benar sendiri di dunia ini sekarang.
“Kita berpisah saja. Mungkin, keputusan kita untuk menjadi sepasang kekasih adalah kesalahan terbesar kita.”, finalnya. Aku menatapnya terkejut. Pisah? Sanggupkah? Setelah 10 tahun ia menemaniku? Menyelamatkanku dari kesendirian? Menghiburku saat aku kehilangan semua keluargaku? Apa pria yang duduk di hadapanku adalah pria yang sama dengan pria yang kukenal10 tahun lalu?
Jika itu maunya, baiklah, akan aku kabulkan. Aku tidak seegois itu bukan? Dengan segenap kekuatan dan harga diri yang tersisa, aku menatap matanya.
“Kenapa aku takut saat kamu mulai dekat dengan dia dan mengabaikan aku, dengan kedok teman? Karena kitapun bermula dari teman. Tidak ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan”, kataku pelan. Tiap kata yang kuucapkan seolah menambah rasa sakit dihatiku. Dia menatapku terkejut, seolah ingin berkata sesuatu, namun tangan kananku terangkat, memberi isyarat baginya untuk diam.
“Kamu…”, aku menelan ludah susah payah, berusaha melanjutkan perkataanku yang pastinya akan merubah hidupku setelah ini. Merubah hubungan kami berdua. Aku sudah lelah mempertahankan dia yang ingin pergi.
“Pusat kehidupanku. Hidupku berotasi di kamu. Aku hampir tidak bisa hidup tanpa kamu. Kamu menghiburku. Membahagiakanku. Mengajarkanku cara untuk tertawa dan berjuang. Kamu pusat duniaku yang membangkitkan aku dari keterpurukanku, 10 tahun lalu.”
“Tapi aku lupa.. jika kamu pusatku, kamu memiliki kuasa. Bukan hanya untuk membangkitkan, tapi juga menjatuhkanku. Dan tampaknya, tugasmu sudah selesai. Kamu sudah melakukan keduanya”.
Sebelum kamu sempat berbicara, aku mengemas handphoneku di atas meja ke dalam ransel yang ku gunakan ke kampus tadi, mengambil beberapa lembar uang dalam dompetku dan meletakkannya di meja. Aku segera berdiri dan bermaksud meninggalkan tempat ini. Berjanji inilah kali terakhir aku menginjakkan kaki ku di café yang menjadi saksi bisu kekalahanku akan cinta.
Tiba tiba saja, tanganku digenggam oleh tangan yang kurasa familier. Tangannya. Aku menoleh sedikit ke belakang, dengan tatapan bertanya.
“Maaf.. jangan pergi”, katanya pelan. Aku sempat goyah, bermaksud mengurungkan keputusanku untuk pergi. Namun secepat pikiran itu datang, segera ku tepis. Pria ini.. sudah menghancurkan diriku. Jika aku terus bergantung padanya, aku tidak tau berapa kali lagi aku harus jatuh bangun. Membenahi hati dan perasaanku.
Aku melepaskan genggamannya pelan. Meskipun hatiku merasa kehilangan.
“Kamu tau.. kata kata yang telah diucapkan, tidak bisa ditarik kembali. Selamat berbahagia. Dan jangan pernah menyia nyiakan orang yang nanti berada di sampingmu menggantikan aku. Karena waktu yang berlalu akan menjadi kenangan. Jangan pernah meremehkan kebersamaan.”. Bertepatan dengan selesainya kalimatku, aku segera pergi, tanpa menoleh ke belakang. Pergi meninggalkan dia. Bukan karena aku berhenti mencintainya. Namun karena cinta mengajarkanku, bahwa tidak semuanya dapat dipaksakan.
Kamis, 11 Februari 2016
total eclipse
I've given all my love to you
you gave me a broken heart for a return
I've given you my youth
you took advantages of my unexperienced heart and played with my emotions
I gave you my life
and you killed me day by day
I wanna put this heart and tear it piece by piece
so I no longer love you
I wanna loose my memory
so I no longer think of you
I wanna go so far
so I no longer have to see you
I want to cry but no more tears left
I want to sleep but my dreams haunt me with you in them
How can I forget you?
If the only love I know is you
How can I move on?
If life is not the same without you
I wanna break free and move on
I just have to close my eyes
and let things fly and the days pass me by.......
you gave me a broken heart for a return
I've given you my youth
you took advantages of my unexperienced heart and played with my emotions
I gave you my life
and you killed me day by day
I wanna put this heart and tear it piece by piece
so I no longer love you
I wanna loose my memory
so I no longer think of you
I wanna go so far
so I no longer have to see you
I want to cry but no more tears left
I want to sleep but my dreams haunt me with you in them
How can I forget you?
If the only love I know is you
How can I move on?
If life is not the same without you
I wanna break free and move on
I just have to close my eyes
and let things fly and the days pass me by.......
Rabu, 10 Februari 2016
Buru-Buru
ahh, suka ini terlalu buru buru
rasanya baru kemarin
saling bertegur sapa, saling bertukar nama
saling menyimpan kagum dalam hati
berpandangan dari jauh dalam diam
ahh, kedekatan ini terlalu buru buru
rasanya hanya sekian detik yang diperlukan
rasanya sudah mengenalnya seumur hidup
rasanya seolah takdir yang mempertemukan kita
ahh, cinta ini terlalu buru buru
terlalu memabukkan, terlalu membutakan
membuat jiwaku terbang ke awan tanpa memikirkan cara untuk kembali
membuat nyanyian roman didendang dalam jiwaku tanpa tau cara untuk berhenti
namun.. mengapa peringatan keras dalam otakku terlambat?
semuanya serba buru buru
dia datang buru buru
membahagiakan buru buru
menyakiti buru buru
pergi pun buru buru
mengapa peringatan itu terlambat?
saat peringatan itu datang, aku masih di awan. lupa untuk turun.
saat penyesalan itu datang, sang cupid masih bernyanyi. tanpa tau untuk berhenti.
ahh, syukurlah. ada pembelajaran dari keterburuanku
aku belajar arti kesetiaan dari pengkhianatannya
aku belajar arti kejujuran dari kebohongannya
belajar arti waras dari kegilaanku padanya
belajar, segala yang datang buru buru, pun akan pergi buru buru
rasanya baru kemarin
saling bertegur sapa, saling bertukar nama
saling menyimpan kagum dalam hati
berpandangan dari jauh dalam diam
ahh, kedekatan ini terlalu buru buru
rasanya hanya sekian detik yang diperlukan
rasanya sudah mengenalnya seumur hidup
rasanya seolah takdir yang mempertemukan kita
ahh, cinta ini terlalu buru buru
terlalu memabukkan, terlalu membutakan
membuat jiwaku terbang ke awan tanpa memikirkan cara untuk kembali
membuat nyanyian roman didendang dalam jiwaku tanpa tau cara untuk berhenti
namun.. mengapa peringatan keras dalam otakku terlambat?
semuanya serba buru buru
dia datang buru buru
membahagiakan buru buru
menyakiti buru buru
pergi pun buru buru
mengapa peringatan itu terlambat?
saat peringatan itu datang, aku masih di awan. lupa untuk turun.
saat penyesalan itu datang, sang cupid masih bernyanyi. tanpa tau untuk berhenti.
ahh, syukurlah. ada pembelajaran dari keterburuanku
aku belajar arti kesetiaan dari pengkhianatannya
aku belajar arti kejujuran dari kebohongannya
belajar arti waras dari kegilaanku padanya
belajar, segala yang datang buru buru, pun akan pergi buru buru
Langganan:
Postingan (Atom)