Kamu selalu berteman dengan kehilangan. Namun tak peduli
seberapa seringnya kamu kehilangan, kamu masih tidak sanggup dengan rasa sakitnya.
Terkadang, sakitnya menjulur di sekujur tubuhmu. Dingin,
sangat dingin, membuatmu meringkuk sendirian di dalam kamar gelapmu. Saksi bisu
kehilanganmu, entah yang kesekian kalinya. Kamu kesulitan menjelaskan rasa
sakitnya, yang kamu tau, kamu sangat ingin melukai dirimu sebagai distraksi
sakit tersebut.
Terkadang, sakitnya membuatmu merasa mati rasa. Tertawa tiba-tiba,
kemudian tiba-tiba air mata jatuh. Membuatmu mempertanyakan kewarasanmu,
membuatmu mempertanyakan arti dirimu. Tiba-tiba saja, hidupmu terasa seperti
candaan.
Nyatanya, kebahagiaan selalu direnggut darimu. Semua hanya
perkara waktu. Dia, yang kamu pikir tidak akan pernah pergipun, ternyata
menempatkanmu di posisi harus melepaskan. Merelakan. Dan lagi-lagi, kamu harus
kembali berjuang sendiri. Berjuang mempertahankan kewarasanmu. Berjuang untuk
tidak merenggut nyawamu sendiri sewaktu-waktu. Berjuang melewati sakitnya tanpa
perlu menyakiti dirimu sendiri.
Nantinya. Nantinya. Jika dirimu gagal berjuang, tidak
apa-apa. Setidaknya kamu mencoba meski akhirnya gagal. Nantinya. Jika kamu
tanpa sadar merenggut hidupmu sendiri, pun tidak apa-apa. Kamu telah mencoba
dengan hebatnya untuk tetap hidup dengan rasa sakit seumur hidupmu. Jika memang
dengan pergi dari dunia ini ternyata satu-satunya cara mengakhiri deritamu, mereka
pasti mengerti.