Saya menatap sekeliling saya dengan tatapan nanar. Mereka semua
melirik ke arah saya, saya tau itu. Entah dari ekor mata mereka, atau secara
terang-terangan. Mata mereka mengikuti saya kemanapun saya melangkah. Mengamati
saya pada apapun yang saya perbuat. Tapi saya tidak peduli. Saya berjalan lurus
melewati mereka. Seperti itu sedari lalu sedari dulu.
Saya mengamati gerak bibir teman-teman kelas saya. Saya tau
mereka membicarakan saya. Sebagian karena ingin tau, sebagian lagi karena
kasihan. Sebagian ingin mendekat, namun tatapan tajam saya tampaknya
mengurungkan beberapa orang tersebut. Kemudian, bibir mereka bergerak untuk
memberitahu pada yang lain mengenai tatapan tajam saya. Saya tau itu, saya bisa
merasakannya. Lagi-lagi saya hanya diam, mengabaikan gerak-gerak bibir yang
sesungguhnya mengganggu saya.
Saya duduk diam mengamati kedua orangtua saya. Kepala saya
mendongak begitu mereka berdiri dan saling menunjuk satu sama lain. Saya mengamati
alis mama yang naik dan matanya yang melotot, serta urat pada leher papa juga
rahangnya yang mengeras. Mereka berdua menatap ke arah saya dengan tatapan
putus asa, sedangkan saya hanya memiringkan kepala sebagai balasan. Mengerti pada
akhirnya, saya memutuskan untuk berdiri meninggalkan mereka dan menuju kamar
saya.
Saya terduduk diam dalam keheningan mencekam. Kemudian saya
memutuskan mengambil speaker yang saya beli dari uang tabungan saya,
menyalakannya, dan menghubungkannya dengan ponsel saya. Saya memilih lagu
berdasarkan judul yang paling menarik di mata saya dan berusaha menikmati
musiknya. Saya membesarkan volume musik tersebut sebelum kemudian air mata
jatuh mengalir pada pipi saya.
Keheningan itu tidak mau pergi.