Terus saja. Terus saja hujani aku dengan kata-kata kasarmu.
Pojokkan aku dengan makianmu. Terus saja teriaki aku untuk tiap hal yang aku
perbuat, untuk tiap hasil yang aku dapatkan. Bandingkan aku dengan anak yang
selalu kamu bangga-banggakan.
Terus saja. Terus saja hancurkan hubungan ini lebih dari
yang bisa ku bayangkan. Jadikan aku pelampiasanmu akan ketidakpuasanmu pada
hidupmu. Jadikan aku bonekamu untuk memenuhi impian-impian kosongmu.
Hingga akhirnya aku mati rasa akanmu. Tidak ada lagi
kemarahan. Tidak ada lagi kekecewaan. Apalagi harapan. Melainkan hanya tatapan
kosong yang selalu ku beri padamu, juga hati yang sudah tidak lagi hidup
untukmu.
Sampai akhirnya aku dewasa, tidak ada satupun, satu halpun,
dari kamu yang akan aku bawa bersamaku. Aku memilih mati daripada tumbuh
semakin dekat menyerupaimu. Nantinya, aku akan pergi dan hidup bahagia tanpa
sedikitpun menyertakan kamu di dalamnya. Kecuali kenangan akan betapa
tertekannya aku akan kehadiranmu. Kecuali kebencianku yang mendarah daging
padamu. Kecuali darahmu yang mengalir di tubuhku.
Sebatas itu. Hanya sebatas itu hubungan aku dan kamu pada
akhirnya. Sebatas darahmu yang mengalir di tubuhku.