Aku benci hujan. Aku benci saat tetesan partikel air itu turun membasahi bumi. Aku benci saat indra penciumanku menangkap bau petrichor yang muncul karena hujan. Aku benci mengingat hadirnya hujan menyaksikan satu per satu kejadian buruk menimpaku. Aku benci bagaimana hujan merenggut orang-orang yang aku sayangi.
Dan disinilah aku. Berdiri dibawah atap sekolah ku, dengan wajah yang ku yakini sangat masam, menatap butiran butiran sialan itu dari tempatku. Pak Joko, supir kepercayaan keluargaku belum kunjung datang. Padahal bel sekolah sudah berbunyi sejak 30 menit lalu. Aku memutuskan untuk berjalan mengelilingi sekolah yang baru aku tempati selama 1 minggu ini. Aku belum sempat berkeliling ke seluruh bagian sekolah, karena aku benci keramaian. Hingga saat istirahat atau jam dimana masih banyak siswa, aku memilih diam di kelas atau berdiam diri di perpustakaan.
Sepi. Aku sangat menikmati saat saat seperti ini. Aku berjalan lamban-lamban seraya mengamati kiri kanan dan mengingat letak-letaknya. Aku terdiam pada sebuah ruangan bertuliskan "ART ROOM". Aku berusaha mengintip lewat sebuah jendela kecil disana. Ah, di dalamnya terdapat karya-karya murid sini, mulai dari majalah dinding, poster, dan masih banyak lagi.
"Through the window, I see you waiting
You are smiling, cause I'm coming
Your eyes are a story, an ocean of memories
Pictures of faces and places and all of the things
That make us feel like we have it all
All of the times that make us realize
We have it all
We have it all
Life is beautiful
Life is beautiful"
Tiba-tiba saja, terdengar sebuah suara merdu samar-samar, beberapa meter dari tempatku berdiri. Kakiku tanpa sadar berjalan menuju sebuah ruangan di ujung koridor sekolah. Mencoba mencuri dengar suara merdu tersebut.
"Living and dying, laughing or crying
If we have the whole world or have nothing
I know there are long nights but we'll make it
With every sunrise comes a new light and all of the things
That make us feel like we have it all
All of the times that make us realize
We have it all
We have it all
Life is beautiful
Life is beautiful
Life is beautiful
A father's love, a wedding dance, new Year's dreams
A toast with friends , a soldier coming home from war
The faith the hope of so much more
A brand new life, a mother's prayer
Shooting stars, ocean air
A lover's kiss, and hard goodbyes
Fireworks, Christmas lights
These are things that make us feel alive
These are the times that make us realize
Life is beautiful"
Aku terpaku mendengar suara serta arti lagu yang dinyanyikan sosok itu. Aku dapat memperhatikan sosok sang penyanyi dari belakang. Sungguh siluet yang indah. Punggung yang tegap dan bidang, duduk di sebuah kursi dengan tangan berada di tuts piano, menghadap arah jendela yang berembun. Dan harus ku akui, hujan membuat pemandangan di hadapanku semakin dramatis.
Namun, benarkah lirik lagu itu? Jika hidup itu indah? Lantas, mengapa aku tak bisa merasakannya? Atau hanya aku yang tidak dapat merasakan keindahan hidup?
"Hei, kamu, gadis kecil. Sedang apa disana?". Tiba tiba sebuah suara mengembalikanku pada kenyataan. Astaga, sosok itu berbalik menghadapku. Menatapku. Tatapannya lembut namun juga tajam dalam waktu bersamaan. Wajahnya khas orang Asia, dengan kulit tanned. Aku tergagap. Aku tidak pernah bisa berhadapan dengan pria.
Aku tetap terdiam. Tidak bisa menjawab pertanyaannya. Saat dia berdiri dan berjalan mendekat, aku melangkah mundur. Saat dia hanya beberapa sentimeter di hadapanku, aku berbalik, bermaksud pergi dari sana. Hanya saja tangan hangat itu menyekal pergelangan tanganku. Membuat jantungku berlompatan di tempatnya.
"Kamu, anak baru yang kemarin aku mentorin pas MOS kan?" , tanyanya. Otakku mulai berputar sambil memberanikan diri menatap wajahnya. Ah, benar, ternyata dia merupakan kakak mentorku saat masa orientasi siswa.
"Jangan malu atau takut. Aku ga gigit kok.", lanjutnya mencoba mencairkan suasana kaku di antara kami. Aku memang tergolong introvert dan kurang bisa bergaul. Bahkan aku tidak memiliki satupun teman, setelah sebuah kecelakaan merenggut temanku dulu. Namun akhirnya aku memutuskan sedikit terbuka pada kakak mentorku ini.
"Aku Ryuzaka. Ayo temani aku hingga hujan reda" ajaknya seraya menarik tanganku. Aku hanya mengangguk, masih bingung harus bersikap apa. Tidak biasanya ada pria yang mau mengajakku berbicara. Akupun menutup diri dari pria, setelah ayahku mengkhianati kepercayaanku. Kami bergandengan dari ruang musik tersebut hingga ke atap yang tadi aku diami.
"Aku suka hujan. Aku suka melihat cahaya petir yang menyambar. Melihat tetesan air hujan. Mencium bau petrichor. Juga pelangi yang muncul setelahnya", ucapnya Kak Ryu setelah hening beberapa waktu diantara kami.
"Aku benci hujan.", jawabku skeptis, membuat wajah tampan itu berkerut heran.
"Loh? Kenapa?"
"Hujan pembawa petaka. Aku benci", jawabku singkat. Agak tidak etis jika aku menceritakan kisah hidupku pada seseorang yang belum aku kenal baik. Kak Ryu tertawa sinis dan menatapku tajam.
"Kamu terlalu picik.", lanjutnya dengan nada datar. Rasa marah mulai muncul dalam diriku. Siapa dia? Dia tidak tau apa apa tentang aku. Dia tidakk tau apa apa tentang hidupku. Apa yang aku alami, kejadian buruk apa yang menimpaku. Aku menggigit bibirku, berusaha meredam amarah.
"Kamu ga tau apa apa", jawabku, mati matian menjaga nada bicaraku.
"Aku emang gatau apa-apa. Tapi aku ga berpikiran picik seperti kamu. Kamu tau? Ibu dan ayahku meninggal saat aku berumur 5 tahun karena kecelakaan dimana hujan menjadi penyebab kecelakaan tersebut. Hujan juga menjadi saksi bisu kepahitan hidupku saat ini. Aku gatau separah apa hujan menghancurkan kamu, yang aku tau, kamu gabisa nyalahin hujan..", aku terdiam. Sedikit merasa bersalah. Karena meski hujan merenggut bunda, adik, dan sahabatku, aku masih memiliki seorang ayah, yang meskipun aku benci, namun tetap aku sayangi.
"Hujan ga punya peran apa-apa dalam semua kejadian buruk dalam hidup kita, Arabell.". Aku menatapnya cepat, saat dia menyebut namaku.
"Itu tergantung gimana cara kita berpikir aja. Cara kita memandang hidup. Apa kamu mau stuck dengan kebencian kamu, atau merelakan. Takdir punya jalannya sendiri. Tuhan punya skenario sendiri. Dan aku yakin, apapun yang terjadi dalam hidup kita, memiliki sebuah maksud tersembunyi", lanjutnya dengan nada melembut, serta tangannya mengusap kepalaku pelan. Aku dapat merasakan wajahku memerah. Jantungku berdebar. Namun harus ku akui, perkataannya benar. Selama ini aku hanya mencari kambing hitam dalam semua kejadian buruk di hidupku.
"Kamu manis, coba lebih banyak tersenyum". Aku mengangguk malu seraya tersenyum kecil. Ah, Kak Ryu, tampaknya aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu. Dari suaramu, caramu memandang hidup. Mata kami bertemu, saling menatap satu sama lain. Kedua sudut bibir Kak Ryu tertarik membentuk sebuah senyuman. Tak lama, sebuah suara klakson menyadarkan kami dari acara tatap-menatap itu.
"Aku.. udah dijemput. Aku pulang dulu ya Kak", kataku kaku. Aku benar benar tidak memiliki pengalaman dalam berbicara pada lawan jenis. Dia mengangguk kecil. Aku pun berlari kecil menuju mobilku, mengingat hujan masih turun rintik-rintik. Saat aku membuka pintu mobil..
"Arabell....", panggilnya, membuatku menoleh.
"Besok jam 5 sore, aku jemput kamu di rumah kamu. Dan tenang saja, aku udah tau rumah kamu. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat", teriaknya dari atap tempatnya berdiri. Aku terdiam sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk.
"Iya Kak. Aku tunggu. Duluan ya Kak", ucapku seraya melanjutkan langkahku ke dalam mobil. Dari kaca mobil yang dihiasi butiran air hujan, aku masih bisa melihat wajahnya yang tersenyum ke arahku.
Dan pertama kali dalam hidupku, aku menyukai hujan.
Jumat, 23 Oktober 2015
Selasa, 04 Agustus 2015
Jangan Bunuh Aku
ruangan ini sangat sunyi. sangat teramat sunyi, hingga pergerakan jarum jam saja terdengar di indera pendengaranku. hingga suara sekecil apapun dapat menghantarkan bunyi. dan saat sunyi ini lah, aku mulai melepas segala topeng yang melekat. entah topeng tertawa. topeng bahagia. topeng cerewet.
sisi lain dari diriku. yang baru saja dibentuk dari rasa tertekan ini. aku yang pendiam. aku yang pendendam. aku yang terluka.
tidak. aku bukan terlahir dari keluarga kaya yang tercerai berai. keluargaku utuh, meski tidak tergolong kata harmonis. dan sederhana, bukan dari golongan kaya. aku juga bukan anak yang tidak mendapat perhatian. sepertinya perhatian kedua orangtuaku cukup, mengingat betapa banyak hal yang mereka tuntut dariku.
hanya saja, hidup di keluarga dengan penuh tuntutan ini membuatku tertekan. tercekik.
lahir dengan otak yang tidak sepintar adikku cukup merusak masa remajaku. mungkin, bagi kalian ini hal sepele. namun, aku hidup bertahun tahun dalam bayang bayang adikku. mulai dari teman yang selalu memuji prestasi adikku di hadapanku. dari guru, yang mengatakan betapa berbedanya aku dari adikku. orangtuaku yang memandangku sebelah mata. bahkan sangat terlihat mengunggulkan adikku.
kalian hanya bisa membayangkannya, namun tidak akan pernah bisa merasakannya.
betapa jatuhnya rasa percaya diri kalian karena terus dibanding-bandingkan.
betapa terlukanya kalian karena diremehkan.
dan parahnya, tidak ada satupun yang bisa ku salahkan selain diriku sendiri. selain sifatku yang pendendam ini.
aku tidak bisa menyalahkan adikku karena kecerdasannya
aku tidak bisa menyalahkan orang di sekelilingku yang menyadari kelebihannya
aku pun tidak mungkin menyalahkan Tuhan karena melahirkanku dengan kepintaran rata rata.
aku takut..
takut semua ini membunuh diriku yang lama.
takut aku menjadi sesosok manusia yang bahkan aku takuti.
takut bahwa suatu saat nanti,
sisi lain diriku lah yang menjadi diriku yang sebenarnya.
tolong aku.. tolong.. jangan bunuh aku.. jangan bunuh karakterku.
Langganan:
Postingan (Atom)