Kamu tau rasanya mengubur arang dalam dirimu?
Untuk setiap pengkhianatan, untuk setiap kebohongan, untuk
setiap kehilangan, arang dalam dirimu terus bertambah. Kamu menumpuknya di
suatu tempat yang teramat dalam, dimana tidak seorang pun bisa tahu. Kamu menyembunyikannya
dengan baik, terlalu baik, hingga terkadang kamu pun lupa kamu mengubur sejuta
arang dalam dirimu.
Untuk setiap rasa sakit, untuk tiap perasaan tidak berharga,
untuk tiap keinginan mengakhiri hidupmu, arangmu kian bertambah. Terkadang tempatmu
terlalu penuh, hingga rasanya sesak dan ingin meledak. Tetapi kamu cerdas. Dengan
sisa kekuatanmu, kamu gali suatu tempat dalam dirimu yang tadinya masih kosong
dan masih bisa diselamatkan, untuk kamu isi dengan arang yang kian tak
terbendung.
Kamu bangga dengan dirimu, karena berhasil menyimpan
sedemikian banyaknya arang dalam tempat terahasiamu. Tetapi kamu lupa, kamu
babak belur untuk menyimpannya. Tetapi kamu lupa, sewaktu-waktu, minyak dan api
mampu membakarmu habis. Dan kali ini, tidak ada lagi bagian dari dirimu yang
bisa diselamatkan.
Tunggu. Tunggu hingga minyak dan api menemukan arang yang tersembunyi
dalam dirimu, melalui celah-celah kelemahanmu. Melalui tiap rasa jenuhmu. Karena
kini kamu begitu lelah, begitu kesepian, hingga berharap kamu lenyap, habis,
bersama arang yang kamu simpan. Karena tanpa sadar, bisa jadi dirimu sendiri
yang menyiapkan minyak dan api untuk dirimu. Hingga tiap inchi arangmu dibasahi
minyak dan terbakar api, membawamu ikut terbakar bersamanya.
Arangmu, kamu, akan habis terbakar. Hangus, tak bersisa,
selain debu dan serpih yang akan terbang dibawa angin. Begitulah dirimu pada
akhirnya. Habis tak bersisa.