Dia cantik. Jenis kecantikan alami yang tidak bisa
disamarkan dalam keadaan paling buruknya sekalipun. Aku tau dia cantik. Orangtuaku
yang luar biasa cuek tau dia cantik. Tetanggaku yang suka menggosip tau dia
cantik. Bahkan satpam satu lingkungan kami tau dia cantik. Intinya, semua yang
hidup tau dia cantik.
Tapi dia gila. Dan semua yang tau bahwa dia cantik, juga tau
bahwa dia gila.
Tidak jelas mengapa dan sejak kapan, tiba-tiba saja begitu. Dia
suka berbicara sendiri. Dia suka berjalan seraya tertawa. Dari lingkunganku, tiba-tiba aku
melihatnya di sekolahku yang berjarak lumayan jauh. Dia suka bermain basket.
Oh, jangan tanya aku betapa banyak ejekan yang dia terima. Atau ucapan
menyayangkan. “Ah, cantik, sayangnya gila”. Teman-temanku di sekolah saja,
sangat suka membicarakannya dan menjadikannya lelucon. Gila, jahat memang. Dia hanya
gila. Dia tidak berbuat apa-apa yang mengganggu orang lain. Dia bahkan tetap
rajin ke gereja, bahkan terlihat saat normal saat sedang mengakrabkan diri
dengan penciptaNya.
Memang manusia itu jahat dan bahkan lebih gila dari gadis
gila itu. Tiba-tiba saja, dia mengandung. Tidak ada yang tau oleh siapa. Dan nampaknya
dia tidak berniat memberi tau siapa-siapa. Dia jadi sulit ditemukan. Tidak ada
lagi dia di lapangan basket. Tidak ada lagi dia yang suka berjalan di sore
hari. Bahkan di gerejapun, dia jarang terlihat. Kembali, mereka mengejek-ngejek
gadis itu. Sudah gila, perempuan sundal juga katanya. Ingin rasanya kubungkam
mulut mereka. Apa mereka tidak merasa lebih gila dari gadis cantik nan gila
itu?
Aku sempat khawatir padanya. Bagaimana dia? Apa dia menjaga
kandungannya dengan baik? Atau bahkan melenyapkan janin itu? Semakin gilakah
dia? Dan banyak pertanyaan lain yang terputar di benakku. Namun nyatanya
pertanyaanku terjawab kurang lebih 9 bulan kemudian. Dia mulai terlihat lagi di
lingkungan, dengan senyum sumringah dan seorang bayi mungil yang mewarisi
kecantikannya di tangannya. Oh, dia bisa bercanda dengan orang-orang sekitar. Dia
tidak lagi berbicara sendiri dan melantur. Bisa kulihat, matanya yang dulu
kosong sudah bersinar lagi. Hilang sudah kegilaannya. Kembali sudah
kewarasannya. Bukankah benar dugaanku? Cinta bisa membawakan seseorang
kebahagiaan. Cinta tidak harus pada kekasih dan pasangan, bukan? Bukankah cinta
seorang ibu kepada anaknya adalah cinta yang tersuci setelah cinta Tuhan untuk
umatNya?
Aku lega, dan terselip rasa bangga untuknya. Juga untukku. Bukankah tindakanku benar? Untuk memberi gadis cantik gila itu seseorang untuk dicintai? Bukankah secara tidak langsung, aku
yang menyembuhkannya dari kegilaan? Aku yang berhasil mengembalikan
kewarasannya. Kelak, dia dan bayi itu akan berterimakasih padaku.