Senin, 25 September 2017

Lorn

LORN
adj: /lawrn/
lost, ruined, undone.



Ah, lagi-lagi rasa sakit ini lagi. Rasa sakit yang begitu familiar bagiku. Rasa sakit yang menghantuiku setiap saat; pagi, siang, sore dan malam tanpa jeda. Membuat dadaku berdenyut tak karuan, yang herannya belum membuatku lenyap karena denyutannya yang semakin lama semakin menyakitkan. Rasa sakit yang tidak lagi membuatku dibanjiri air mata, melainkan rasa sakit yang membuatku menatap kosong pada dinding di hadapanku pada malam-malam yang aku lalui seorang diri. Rasa sakit yang aku kenali sebagai sesuatu yang aku sebut kehilangan.

Lagi-lagi, aku kehilangan. Kehilangan seseorang yang sebelumnya mendampingi kesendirianku. Aku tau,  tidak ada yang abadi. Tidak dengan cinta, tidak dengan kekayaan, pun tidak dengan kebahagiaan. Mereka semua hanya dipinjamkan untuk kamu nikmati sebentar, sebelum akhirnya alam memintanya kembali daripadamu. Sadarilah, segala yang di dalam dunia ini memiliki tenggat waktu masing-masing. Pada dasarnya, setiap manusia akan mengalami kehilangan. Dan sialnya, aku termasuk manusia yang mengalami kehilangan lebih banyak dari manusia lainnya. Kahilangan bukan hal yang baru bagiku, aku sudah terbiasa dengan itu. Namun, kehilangan sesuatu yang baru aku sadari saat sosoknya telah pergi adalah sesuatu yang lain. Kehilangan untuk sebuah rasa yang belum berhasil ku identifikasi bukan keahlianku. Sebelumnya, rasa itu tidak pernah hadir. Jantungku tidak berdegup kencang saat dia disisi, perutku tidak dipenuhi kupu-kupu saat bibir lembutnya menyentuh bibirku. Tetapi mungkin rasa itu hadir dalam diam dan terselimut sesuatu yang aku kenali sebagai rasa takut. Takut, untuk kembali membuka hati. Takut bahwa segalanya hanya mimpi dan pada saat yang ditentukan dia akan kembali direnggut pergi dariku. Rasa takut yang menenggelamkanku namun selama ini membuatku bertahan hidup. Dan sekarang, rasa takut itu menyisakan penyesalan tak berujung saat sosoknya kini sudah berada di seberang. Tak terlihat, tak terjangkau. Tidak bisa ditemui dimanapun.

Hai kamu, yang mungkin sudah berada di dunia yang jauh lebih baik dari dunia yang aku tinggali. Bahagiakah kamu? Bisakah kamu mendengar isi hatiku dari sana? Konon katanya, manusia yang sudah terpisah dari raganya bisa bebas mengamati manusia lainnya. Perbuatannya, pikirannya, tingkah lakunya. Bisakah? Karena dengan memastikan kamu mengetahui perasaanku yang sebenarnya, aku bisa merelakan kehilangan kali ini.
Seandainya kamu mengetahuinya, bersediakah kamu berbaik hati memberiku tanda? Seandainya kamu bahagia, maukah kamu mengingatku sebagai kenanganmu yang manis? Seandainya hari itu aku mengakui perasaanku, mungkinkah kamu masih disini?


 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design