adj: /lawrn/
lost, ruined, undone.
Ah, lagi-lagi rasa sakit ini lagi. Rasa sakit yang begitu familiar bagiku. Rasa sakit yang menghantuiku setiap saat; pagi, siang, sore dan malam tanpa jeda. Membuat dadaku berdenyut tak karuan, yang herannya belum
membuatku lenyap karena denyutannya yang semakin lama semakin menyakitkan. Rasa
sakit yang tidak lagi membuatku dibanjiri air mata, melainkan rasa sakit yang
membuatku menatap kosong pada dinding di hadapanku pada malam-malam yang aku
lalui seorang diri. Rasa sakit yang aku kenali sebagai sesuatu yang aku sebut
kehilangan.
Lagi-lagi, aku kehilangan. Kehilangan seseorang yang
sebelumnya mendampingi kesendirianku. Aku tau, tidak ada yang abadi. Tidak dengan cinta,
tidak dengan kekayaan, pun tidak dengan kebahagiaan. Mereka semua hanya
dipinjamkan untuk kamu nikmati sebentar, sebelum akhirnya alam memintanya
kembali daripadamu. Sadarilah, segala yang di dalam dunia ini memiliki tenggat
waktu masing-masing. Pada dasarnya, setiap manusia akan mengalami kehilangan.
Dan sialnya, aku termasuk manusia yang mengalami kehilangan lebih banyak dari
manusia lainnya. Kahilangan bukan hal yang baru bagiku, aku sudah terbiasa
dengan itu. Namun, kehilangan sesuatu yang baru aku sadari saat sosoknya telah
pergi adalah sesuatu yang lain. Kehilangan untuk sebuah rasa yang belum
berhasil ku identifikasi bukan keahlianku. Sebelumnya, rasa itu tidak pernah
hadir. Jantungku tidak berdegup kencang saat dia disisi, perutku tidak dipenuhi
kupu-kupu saat bibir lembutnya menyentuh bibirku. Tetapi mungkin rasa itu hadir
dalam diam dan terselimut sesuatu yang aku kenali sebagai rasa takut. Takut,
untuk kembali membuka hati. Takut bahwa segalanya hanya mimpi dan pada saat
yang ditentukan dia akan kembali direnggut pergi dariku. Rasa takut yang
menenggelamkanku namun selama ini membuatku bertahan hidup. Dan sekarang, rasa
takut itu menyisakan penyesalan tak berujung saat sosoknya kini sudah berada di
seberang. Tak terlihat, tak terjangkau. Tidak bisa ditemui dimanapun.
Hai kamu, yang mungkin sudah berada di dunia yang jauh lebih
baik dari dunia yang aku tinggali. Bahagiakah kamu? Bisakah kamu mendengar isi
hatiku dari sana? Konon katanya, manusia yang sudah terpisah dari raganya bisa
bebas mengamati manusia lainnya. Perbuatannya, pikirannya, tingkah lakunya.
Bisakah? Karena dengan memastikan kamu mengetahui perasaanku yang sebenarnya,
aku bisa merelakan kehilangan kali ini.
Seandainya kamu mengetahuinya, bersediakah kamu berbaik hati
memberiku tanda? Seandainya kamu bahagia, maukah kamu mengingatku sebagai
kenanganmu yang manis? Seandainya hari itu aku mengakui perasaanku, mungkinkah
kamu masih disini?