Aku membencimu, kau tau?
Dari awal pertemuan, kamu dengan mata jahilmu sudah membuatku kesal. Bagaimana bisa kamu menjatuhkan es krim kesukaanku tanpa kata maaf? Dan seterusnya, kamu selalu berada paling tidak 1 meter di dekatku. Menganggu pemandanganku. Menjahiliku tiap ada kesempatan.
Aku ingat, betapa malunya aku saat dihukum bersamamu memutari lapangan itu, karena kamu mengajakku berbicara saat pelajaran. Oh, atau saat kamu membuat lututku luka dengan tidak berhati-hati saat mengantarku pulang. Ada lagi, saat kamu bernyanyi (atau berteriak? entah, aku tidak bisa membedakan) di tengah taman saat kita sedang mengerjakan tugas, membuat beberapa pasang mata melihat ke arah kita dengan tatapan aneh. Oh astaga, intinya, kamu selalu membuatku kesal hampir pada saat.
Aku juga tidak mengerti. Kamu aneh. Kamu bilang kamu tidak suka es krim karena hanya anak kecil yang makan es krim. Tapi kenapa kamu membawakanku es krim dan memakannya bersamaku saat aku menangis karena mamaku mengecewakanku? Kamu juga bilang, kamu tidak akan pernah mau diganggu saat tidur oleh siapapun. Tapi kenapa kamu segera muncul di depan rumahku dengan nafas terengah saat papaku yang pemabuk itu pulang? Kamu memutarkan lagu klasik untukku saat genre yang kamu sukai adalah rock. Kamu memakan kuning telur milikku karena kamu tau aku alergi, padahal kamu juga tidak suka. Kamu menemaniku ke tempat novel saat yang kamu sukai adalah komik.
Tunggu, tunggu. Aku tidak menulis ini untuk memujimu, sungguh. Aku membencimu, bukan?