Kamis, 17 September 2020

Untuk Hati yang Patah

 

Menyaksikan hatiku kembali patah, untuk orang yang sama, adalah kebodohan terbodoh yang pernah kulakukan. Kebodohan yang entah mengapa menjadi sebuah candu. Adiksi. Tidak bisa dihindari.

Segalanya sudah jelas sejak perpisahan pertama: nyatanya kita seperti api dan minyak; tidak bisa bersatu. Terlalu banyak perbedaan, terlalu banyak pertentangan. Hingga tawa mulai berubah menjadi tangis, hingga bahagia mulai berubah menjadi sakit. Kenangan indah perlahan pudar, tergantikan luka yang terus menumpuk. Tapi atas dasar memori-memori indah yang pernah terukir, atas dasar kata nyaman, nyatanya kita memilih bertahan dan semakin memupuk luka.

Aku tidak bilang semuanya salahmu. Aku, dengan jiwa rusakku, dengan segala kegilaanku, menghancurkan hubungan ini perlahan. Membuatmu yang tadinya yakin akan terus menetap, menjadi menyerah. Membuatmu yang tadinya begitu sabar, menjadi abai. Bisa dibilang, aku sumber hancurnya hubungan ini.

Namun bukankah aku selalu begitu? Aku selalu memposisikan semua orang yang aku sayangi, di luar lingkar hidupku. Aku selalu menjadi wanita yang begitu sulit dimengerti, begitu sulit dipahami. Aku seperti hidup dalam duniaku sendiri, menciptakan realitaku sendiri, realita yang tidak diketahui orang lain. Aku, selalu menghancurkan segala hal baik dalam hidupku. Semuanya.

Dan terkait hati yang patah ini, aku hanya bisa berdoa bahwa kelak, entah kapan, hati ini dapat kembali utuh. Kembali merasa. Kembali bisa mencintai. Meski saat ini aku begitu ingin pergi, begitu ingin menyerah, begitu ingin meninggalkan dunia dan segala kesakitannya, nyatanya aku harus bertahan.

Untuk hati yang patah, bersabar sedikit lagi. Pada akhirnya, segalanya akan baik baik saja. Ya, segalanya akan baik baik saja.

 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design