Aku menatap pria itu dari balik kacamata besarku. Tempat yang sama, posisi yang sama, pesanan
yang sama, pikirku. Dia selalu datang pada sekitar pukul 7 malam, memesan
red velvet latte dan red velvet cake, duduk beberapa kursi dari tempat
favoritku, kemudian membaca novel. Kegiatan yang sama dengan yang ku lakukan,
bedanya, pesananku berbau greentea. Aku sudah mengamatinya dari hari pertama
aku menemukan the hidden jewelry in town ini. Sulit menemukan café dengan homey
ambience di tengah kota besar seperti Jakarta. Café-café di Jakarta biasa
dipenuhi dengan gadis gadis seperti toko perhiasan berjalan, yang sibuk
memotret kopi panas mereka hingga aku bertanya apakah kopi itu masih panas,
kemudian berbicara mengenai trend fashion yang tidak ku mengerti.
Well, sudah 4 bulan sejak aku suka mengamati pria itu
diam-diam. Aku mengambil kesimpulan, dia sama sepertiku. Pecinta novel.
Menikmati waktu untuk menyelami kisah yang dibangun para penulis. Aku bukannya
tidak memiliki teman hingga datang ke café ini hampir setiap hari sendirian,
hanya saja aku belum menemukan teman dengan kecintaan terhadap novel sebesar
aku. Membuatku terlihat aneh jika membahas cerita-cerita yang membuatku
antusias dengan mereka yang tidak mengerti. Kecintaanku pada novel sama dengan
kecintaan kalian, para gadis, dengan Gucci, Prada, dan kawan-kawannya.
Kembali ke pria itu. Hal yang membuatku sering mengamatinya
bukan karena sepasang mata indah itu. Bukan juga karena hidung mancung tempat
kacamatanya bertengger. Bukan juga bibirnya yang tampak kissable itu *maafkan
aku bunda*. Bukan juga dada bidang serta tingginya yang… Oh, cukup, ini mulai
melantur. Intinya, ada sesuatu. Ada sesuatu dalam pria itu yang menghipnotisku
sejak awal aku melihatnya. Aku yakin, aku baru melihatnya 4 bulan lalu, namun
aku seperti sudah mengenalnya sejak lama. Sosoknya seperti tidak asing bagiku.
Dia tidak datang setiap hari, dan dari penampilannya, sepertinya dia sudah
bekerja, bukan mahasiswa sepertiku. Darimana aku tahu? Karena, dia selalu
datang dengan kemeja nya yang tergulung hingga ke siku dan tampak berantakan.
Dengan celana bahan hitam panjang, juga sepasang sepatu pantofel. Rambutnya
sedikit ikal namun rapi, membuatku bertanya-tanya bagaimana rasanya menyisirkan
tanganku pada rambut tebalnya? Jangan tanya aku bagaimana aku mengagumi posisi
duduknya. HAH tidak salah saat adikku menobatiku sebagai dramaqueen. Punggung
tegaknya yang tersandar pada kursi kayu café ini, kaki kanan jenjangnya yang
diletakkan di lutut kirinya. Tangan kirinya memegang novel, dan dari hasil
pengamatanku, novel-novelnya selalu berbau science-fiction, atau fantasy.
Berbeda dengan aku yang tergila-gila pada novel romance. Tapi, intinya sama
kan, kami sama-sama pecinta novel.
Aku berani jamin 100%, dia menyadari bahwa aku mengamatinya selama
ini. Tapi dia cuek saja. Sedikit salah tingkah memang. Seringkali aku merasakan
dorongan kuat untuk menghampirinya dan mengajaknya berkenalan, dan berbincang
bersama tentang novel. Untungnya, tubuhku masih cukup waras untuk tidak
menuruti akal gilaku. Saat ini, seperti yang sudah-sudah, mata kami kembali
bertemu lagi, tanpa sengaja. Dan aku tidak tau setan centil mana yang
menghampiriku. Atau mungkin karena banyak pikiran akan tugas akhirku. Jika
biasanya aku segera mengalihkan tatapanku saat tatapan kami bertemu, hari ini
aku melakukan hal lain. Aku tetap menatap matanya yang dalam dan menghanyutkan.
Diapun demikian. Entah berapa detik atau bahkan menit kami habiskan untuk
saling menatap, hingga kemudian dia memutuskan tatapannya terlebih dahulu, memasukkan
novel dan laptopnya ke dalam tasnya, dengan tangan kiri memegang piring berisi
kue yang belum habis, dan kemudian berdiri. Aku gelagapan. Dengan panik kembali
menunduk dan berpura-pura membaca kembali novelku dengan pikiran yang entah
berantah. Langkah kakinya terdengar semakin dekat seiring dengan menggilanya
detak jantungku. Tuhan, jangan sekarang,
aku belum siap, pikirku. Aku mulai meresahkan hal yang tidak perlu,
seperti, apakah rambutku sedang berantakan? Apakah wajahku mulai terlihat
kusam? Apakah aku sedang terlihat cantik? Apakah..
“Kita ga akan pernah kenal kalau cuma lihat-lihatan seperti
ini.”