Terkadang, apa yang aku inginkan memang bukan yang aku butuhkan.
Aku begitu menginginkan kamu, dan menghabiskan banyak malam
untuk memikirkan kemungkinan jika kita bersama. Tidak, aku tidak akan bilang
kita cocok. Ataupun saling melengkapi. Karena kenyataannya, kamu jauh dari
teman hidup yang aku harapkan. Tetapi atas perasaan yang dulu kusebut cinta,
yang sekarang terpampang sebagai obsesi, aku memaksakan diri bersamamu.
Bersamamu begitu sulit. Entah berapa kali hatiku terdengar
retak karena abaimu. Atau berapa kali kamu kembali setelah pergi beberapa saat.
Juga sikapmu yang tak pernah terbaca, hingga aku tidak tau, apa aku telah
mengenal dirimu yang sebenarnya?
Bersamamu begitu menyakitkan. Aku harus rela membagimu
dengan seseorang yang terlebih dahulu ada. Aku harus rela kamu tinggalkan demi
dia yang sedang kembali. Aku harus memperbesar sabarku tatkala kamu muncul
tidak tepat waktu karena menghabiskan waktu dengannya.
Aku biarkan tanganku kamu genggam usai kamu menggenggam
tangannya, juga ku berikan bibirku untuk kamu kecup usai kamu melumat bibirnya.
Aku tinggalkan moral yang aku junjung tinggi demi kamu, seseorang yang bahkan
aku tau tidak mungkin menjadi masa depanku.
Percayalah, ribuan kali terpikir untuk mengakhiri
ketidakjelasan ini denganmu. Namun tiap kali aku ingin mengakhiri, kamu selalu
kembali. dan aku begitu lemah untuk mengakhiri disaat segalanya baik-baik saja.
Kamu membuatku berpikir ada sesuatu di antara kita, sesuatu yang mati-matian
kita berdua sangkal. Kemudian setelahnya, membuatku berpikir tidak pernah ada
kata “kita” selama ini.
Tetapi saat ini, tampaknya kita sudah benar-benar mencapai
titik akhir. Titik dimana tidak lagi ada jalan bagi kita untuk ditempuh. Titik dimana
tidak ada lagi halaman untuk mengisi kisah kita. Demi aku dan bahagiaku, aku
harus melepaskan kamu.
Iya, sekali lagi, demi aku dan bahagiaku, bukan demi kamu
dan bahagiamu. Aku putuskan untuk kehilangan untuk kemudian mendapatkan. Aku putuskan
untuk membiarkan hatiku patah untuk kemudian sembuh.
Pergilah, kembali sepenuhnya ke sisinya. Kusadari sesuatu
yang aku miliki secara tidak adil tidak akan benar-benar menjadi milikku. Pada akhirnya aku harus melepaskanmu, menyaksikan kepergianmu, mengembalikanmu ke tempatmu seharusnya berada.