Jumat, 07 Desember 2018

Nikmati Sakitmu


Bukankah memang begitu polanya?

Kamu bertemu, untuk kemudian berpisah.
Kamu tertawa karenanya, untuk persiapan tangismu.
Kamu diberinya rasa aman, untuk nantinya disakiti.
Ayolah, kamu sudah terbiasa dengan ini. Mengapa kamu memperbesarnya kali ini?
Lepaskan saja dia, tunggu apa lagi?

Memang, malam-malam penuh tangis akan terulang. Kamu akan kembali berjuang melawan dirimu dan pikiranmu sendiri, kembali mempertanyakan dimana letak salahmu, juga kembali mempertanyakan tidak layakkah kamu untuk dicintai. 

Juga, hari-hari kosong menyedihkan tanpa dirinya pun, akan terulang. Kamu akan berjuang menahan air mata untuk tiap kenangan yang terlintas, kamu akan berhenti beraktivitas, -bahkan berhenti bernafas-, untuk sepersekian detik, demi meresapi remuk redamnya hatimu. 

Tetapi, bukankah segalanya pernah dan telah kamu lewati? Dan nyatanya, kamu masih tegak berdiri.

Jangan, jangan lawan rasa sakitnya. Nikmati. Terima saja semua pukulan tak kasat mata di dadamu, biarkan pipimu dialiri air mata kesakitanmu, -mungkin juga air mata rindumu-.

Nikmati segalanya, hingga tanpa kamu sadari, sakitnya telah berlalu. Nikmati hingga tanpa kamu sadari, dirinya telah terlupakan.

Dan pada titik itu, seperti yang sebelum-sebelumnya, kamu akan kembali mengerti, bahwa bukan dia yang kamu cintai. Wanita sepertimu, serusak kamu, tidak bisa mencintai seseorang. Kamu hanya mencintai perasaan sesaat yang dia timbulkan dalam dirimu. Perasaan aman, perasaan terlindungi, perasaan nyaman. Dan saat segalanya berakhir, kamu bahkan akan lupa bahwa kamu pernah merasakan sakit.

 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design