Bukankah
memang begitu polanya?
Kamu
bertemu, untuk kemudian berpisah.
Kamu
tertawa karenanya, untuk persiapan tangismu.
Kamu
diberinya rasa aman, untuk nantinya disakiti.
Ayolah,
kamu sudah terbiasa dengan ini. Mengapa kamu memperbesarnya kali ini?
Lepaskan
saja dia, tunggu apa lagi?
Memang,
malam-malam penuh tangis akan terulang. Kamu akan kembali berjuang melawan
dirimu dan pikiranmu sendiri, kembali mempertanyakan dimana letak salahmu, juga
kembali mempertanyakan tidak layakkah kamu untuk dicintai.
Juga,
hari-hari kosong menyedihkan tanpa dirinya pun, akan terulang. Kamu akan
berjuang menahan air mata untuk tiap kenangan yang terlintas, kamu akan berhenti
beraktivitas, -bahkan berhenti bernafas-, untuk sepersekian detik, demi meresapi
remuk redamnya hatimu.
Tetapi,
bukankah segalanya pernah dan telah kamu lewati? Dan nyatanya, kamu masih tegak
berdiri.
Jangan,
jangan lawan rasa sakitnya. Nikmati. Terima saja semua pukulan tak kasat mata
di dadamu, biarkan pipimu dialiri air mata kesakitanmu, -mungkin juga air mata
rindumu-.
Nikmati
segalanya, hingga tanpa kamu sadari, sakitnya telah berlalu. Nikmati hingga
tanpa kamu sadari, dirinya telah terlupakan.
Dan
pada titik itu, seperti yang sebelum-sebelumnya, kamu akan kembali mengerti,
bahwa bukan dia yang kamu cintai. Wanita sepertimu, serusak kamu, tidak bisa
mencintai seseorang. Kamu hanya mencintai perasaan sesaat yang dia timbulkan
dalam dirimu. Perasaan aman, perasaan terlindungi, perasaan nyaman. Dan saat
segalanya berakhir, kamu bahkan akan lupa bahwa kamu pernah merasakan sakit.