Jumat, 21 April 2017

I Know You Since Forever to A Stranger



Aku menatap pria itu dari balik kacamata besarku. Tempat yang sama, posisi yang sama, pesanan yang sama, pikirku. Dia selalu datang pada sekitar pukul 7 malam, memesan red velvet latte dan red velvet cake, duduk beberapa kursi dari tempat favoritku, kemudian membaca novel. Kegiatan yang sama dengan yang ku lakukan, bedanya, pesananku berbau greentea. Aku sudah mengamatinya dari hari pertama aku menemukan the hidden jewelry in town ini. Sulit menemukan café dengan homey ambience di tengah kota besar seperti Jakarta. Café-café di Jakarta biasa dipenuhi dengan gadis gadis seperti toko perhiasan berjalan, yang sibuk memotret kopi panas mereka hingga aku bertanya apakah kopi itu masih panas, kemudian berbicara mengenai trend fashion  yang tidak ku mengerti.
Well, sudah 4 bulan sejak aku suka mengamati pria itu diam-diam. Aku mengambil kesimpulan, dia sama sepertiku. Pecinta novel. Menikmati waktu untuk menyelami kisah yang dibangun para penulis. Aku bukannya tidak memiliki teman hingga datang ke café ini hampir setiap hari sendirian, hanya saja aku belum menemukan teman dengan kecintaan terhadap novel sebesar aku. Membuatku terlihat aneh jika membahas cerita-cerita yang membuatku antusias dengan mereka yang tidak mengerti. Kecintaanku pada novel sama dengan kecintaan kalian, para gadis, dengan Gucci, Prada, dan kawan-kawannya.

Kembali ke pria itu. Hal yang membuatku sering mengamatinya bukan karena sepasang mata indah itu. Bukan juga karena hidung mancung tempat kacamatanya bertengger. Bukan juga bibirnya yang tampak kissable itu *maafkan aku bunda*. Bukan juga dada bidang serta tingginya yang… Oh, cukup, ini mulai melantur. Intinya, ada sesuatu. Ada sesuatu dalam pria itu yang menghipnotisku sejak awal aku melihatnya. Aku yakin, aku baru melihatnya 4 bulan lalu, namun aku seperti sudah mengenalnya sejak lama. Sosoknya seperti tidak asing bagiku. Dia tidak datang setiap hari, dan dari penampilannya, sepertinya dia sudah bekerja, bukan mahasiswa sepertiku. Darimana aku tahu? Karena, dia selalu datang dengan kemeja nya yang tergulung hingga ke siku dan tampak berantakan. Dengan celana bahan hitam panjang, juga sepasang sepatu pantofel. Rambutnya sedikit ikal namun rapi, membuatku bertanya-tanya bagaimana rasanya menyisirkan tanganku pada rambut tebalnya? Jangan tanya aku bagaimana aku mengagumi posisi duduknya. HAH tidak salah saat adikku menobatiku sebagai dramaqueen. Punggung tegaknya yang tersandar pada kursi kayu café ini, kaki kanan jenjangnya yang diletakkan di lutut kirinya. Tangan kirinya memegang novel, dan dari hasil pengamatanku, novel-novelnya selalu berbau science-fiction, atau fantasy. Berbeda dengan aku yang tergila-gila pada novel romance. Tapi, intinya sama kan, kami sama-sama pecinta novel.

Aku berani jamin 100%, dia menyadari bahwa aku mengamatinya selama ini. Tapi dia cuek saja. Sedikit salah tingkah memang. Seringkali aku merasakan dorongan kuat untuk menghampirinya dan mengajaknya berkenalan, dan berbincang bersama tentang novel. Untungnya, tubuhku masih cukup waras untuk tidak menuruti akal gilaku. Saat ini, seperti yang sudah-sudah, mata kami kembali bertemu lagi, tanpa sengaja. Dan aku tidak tau setan centil mana yang menghampiriku. Atau mungkin karena banyak pikiran akan tugas akhirku. Jika biasanya aku segera mengalihkan tatapanku saat tatapan kami bertemu, hari ini aku melakukan hal lain. Aku tetap menatap matanya yang dalam dan menghanyutkan. Diapun demikian. Entah berapa detik atau bahkan menit kami habiskan untuk saling menatap, hingga kemudian dia memutuskan tatapannya terlebih dahulu, memasukkan novel dan laptopnya ke dalam tasnya, dengan tangan kiri memegang piring berisi kue yang belum habis, dan kemudian berdiri. Aku gelagapan. Dengan panik kembali menunduk dan berpura-pura membaca kembali novelku dengan pikiran yang entah berantah. Langkah kakinya terdengar semakin dekat seiring dengan menggilanya detak jantungku. Tuhan, jangan sekarang, aku belum siap, pikirku. Aku mulai meresahkan hal yang tidak perlu, seperti, apakah rambutku sedang berantakan? Apakah wajahku mulai terlihat kusam? Apakah aku sedang terlihat cantik? Apakah..

“Kita ga akan pernah kenal kalau cuma lihat-lihatan seperti ini.”
 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design