Kamis, 30 April 2020

Kehilangan


Kamu selalu berteman dengan kehilangan. Namun tak peduli seberapa seringnya kamu kehilangan, kamu masih tidak sanggup dengan rasa sakitnya.

Terkadang, sakitnya menjulur di sekujur tubuhmu. Dingin, sangat dingin, membuatmu meringkuk sendirian di dalam kamar gelapmu. Saksi bisu kehilanganmu, entah yang kesekian kalinya. Kamu kesulitan menjelaskan rasa sakitnya, yang kamu tau, kamu sangat ingin melukai dirimu sebagai distraksi sakit tersebut.

Terkadang, sakitnya membuatmu merasa mati rasa. Tertawa tiba-tiba, kemudian tiba-tiba air mata jatuh. Membuatmu mempertanyakan kewarasanmu, membuatmu mempertanyakan arti dirimu. Tiba-tiba saja, hidupmu terasa seperti candaan.

Nyatanya, kebahagiaan selalu direnggut darimu. Semua hanya perkara waktu. Dia, yang kamu pikir tidak akan pernah pergipun, ternyata menempatkanmu di posisi harus melepaskan. Merelakan. Dan lagi-lagi, kamu harus kembali berjuang sendiri. Berjuang mempertahankan kewarasanmu. Berjuang untuk tidak merenggut nyawamu sendiri sewaktu-waktu. Berjuang melewati sakitnya tanpa perlu menyakiti dirimu sendiri.

Nantinya. Nantinya. Jika dirimu gagal berjuang, tidak apa-apa. Setidaknya kamu mencoba meski akhirnya gagal. Nantinya. Jika kamu tanpa sadar merenggut hidupmu sendiri, pun tidak apa-apa. Kamu telah mencoba dengan hebatnya untuk tetap hidup dengan rasa sakit seumur hidupmu. Jika memang dengan pergi dari dunia ini ternyata satu-satunya cara mengakhiri deritamu, mereka pasti mengerti.

 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design