Pikirku,
kamu rumahku.
Tempatku
pulang. Tempatku berteduh, berlindung.
Tempatku
beristirahat, melepaskan penat serta sesak.
Tempatku
menjadi aku. Tempat dimana aku tanpa topengku.
Pikirku,
kamu rumahku.
Tempatku
menangis dan tertawa. Tempatku kecewa dan bahagia. Tempatku jatuh dan bangkit.
Tempatku
berkeluh kesah. Tempat ternyamanku.
Sungguh,
butuh waktu lama untuk menyadari bahwa bukan kamu rumahku.
Nyatanya,
kamu hanya tempat singgahku. Sementara, sesaat. Tidak bertahan lama.
Menetaplah,
pintamu. Mana bisa?
Adilkah
aku menempati rumah yang sejatinya milik orang lain, hanya untuk sebuah obsesi
yang kupikir adalah cinta?
Bisakah
aku tinggal di rumah yang bukan milikku, sementara di luar sana, rumahku yang
sesungguhnya menanti kedatanganku?
Kamu
bertanya mengapa. Jawabku, memang bukan kamu. Sesederhana itu.
Aku
harus berani hancur lebur meninggalkanmu, untuk bisa kembali utuh.
Aku
harus memilih terluka sedalam-dalamnya saat ini, untuk menemukan rumahku yang
sesungguhnya.
Demikian
pula kamu.
Karena
nyatanya, cinta bukan hanya mengenai nyaman dan aman.
Dan
nanti, saat aku menemukan rumahku dan kamu menemukan pemilikmu, semua sakit ini
akan berbayar.