Jumat, 05 April 2019

Rumah


Pikirku, kamu rumahku.
Tempatku pulang. Tempatku berteduh, berlindung.
Tempatku beristirahat, melepaskan penat serta sesak.
Tempatku menjadi aku. Tempat dimana aku tanpa topengku.

Pikirku, kamu rumahku.
Tempatku menangis dan tertawa. Tempatku kecewa dan bahagia. Tempatku jatuh dan bangkit.
Tempatku berkeluh kesah. Tempat ternyamanku.

Sungguh, butuh waktu lama untuk menyadari bahwa bukan kamu rumahku.
Nyatanya, kamu hanya tempat singgahku. Sementara, sesaat. Tidak bertahan lama.

Menetaplah, pintamu. Mana bisa?
Adilkah aku menempati rumah yang sejatinya milik orang lain, hanya untuk sebuah obsesi yang kupikir adalah cinta?
Bisakah aku tinggal di rumah yang bukan milikku, sementara di luar sana, rumahku yang sesungguhnya menanti kedatanganku?

Kamu bertanya mengapa. Jawabku, memang bukan kamu. Sesederhana itu.
Aku harus berani hancur lebur meninggalkanmu, untuk bisa kembali utuh.
Aku harus memilih terluka sedalam-dalamnya saat ini, untuk menemukan rumahku yang sesungguhnya.

Demikian pula kamu.
Karena nyatanya, cinta bukan hanya mengenai nyaman dan aman.
Dan nanti, saat aku menemukan rumahku dan kamu menemukan pemilikmu, semua sakit ini akan berbayar.
 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design