Senin, 28 Agustus 2017

Dunia Tanpa Suara



Saya menatap sekeliling saya dengan tatapan nanar. Mereka semua melirik ke arah saya, saya tau itu. Entah dari ekor mata mereka, atau secara terang-terangan. Mata mereka mengikuti saya kemanapun saya melangkah. Mengamati saya pada apapun yang saya perbuat. Tapi saya tidak peduli. Saya berjalan lurus melewati mereka. Seperti itu sedari lalu sedari dulu.

Saya mengamati gerak bibir teman-teman kelas saya. Saya tau mereka membicarakan saya. Sebagian karena ingin tau, sebagian lagi karena kasihan. Sebagian ingin mendekat, namun tatapan tajam saya tampaknya mengurungkan beberapa orang tersebut. Kemudian, bibir mereka bergerak untuk memberitahu pada yang lain mengenai tatapan tajam saya. Saya tau itu, saya bisa merasakannya. Lagi-lagi saya hanya diam, mengabaikan gerak-gerak bibir yang sesungguhnya mengganggu saya.

Saya duduk diam mengamati kedua orangtua saya. Kepala saya mendongak begitu mereka berdiri dan saling menunjuk satu sama lain. Saya mengamati alis mama yang naik dan matanya yang melotot, serta urat pada leher papa juga rahangnya yang mengeras. Mereka berdua menatap ke arah saya dengan tatapan putus asa, sedangkan saya hanya memiringkan kepala sebagai balasan. Mengerti pada akhirnya, saya memutuskan untuk berdiri meninggalkan mereka dan menuju kamar saya.

Saya terduduk diam dalam keheningan mencekam. Kemudian saya memutuskan mengambil speaker yang saya beli dari uang tabungan saya, menyalakannya, dan menghubungkannya dengan ponsel saya. Saya memilih lagu berdasarkan judul yang paling menarik di mata saya dan berusaha menikmati musiknya. Saya membesarkan volume musik tersebut sebelum kemudian air mata jatuh mengalir pada pipi saya.

Keheningan itu tidak mau pergi.
 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design