“Aku ingin pulang”, kataku untuk sekian kalinya padamu. Aku bisa
melihat kerutan di dahimu pertanda bingung pada wajahmu yang begitu dekat
denganku.
“Pulang kemana? Kita sudah di rumah kita.”, katamu dengan
suara yang bertahun-tahun membuatku jatuh cinta.
Aku diam. Tidak berniat menjawab pertanyaanmu. Kamu membelai
bahu telanjangku sebelum akhirnya mengecup bibirku pelan. Sekali. Dua kali. Hingga
kecupan berubah menjadi lumatan. Lagi-lagi pikiranku menerawang di tengah
gairahku. Apakah kamu mencium mereka, -wanita wanitamu di luar sana-, sama
lembutnya dengan caramu menciumku?
“Bagimu, rumah itu apa?”, tanyaku lagi. Kamu terdiam.
“Rumah? Tempat kita tinggal sekarang? Bangunan yang
melindungi kita dari hujan dan panas?”, jawabku dengan lirikan jahil khas
dirimu. Aku memukul bahumu pelan sebelum kamu menangkap tanganku dan membawanya
ke dalam tangan hangatmu. Membuatku lagi lagi bertanya, apakah mereka juga
menikmati hangatnya tanganmu?
“Kamu tau bukan itu maksudku!”, rajukku. Kamu tertawa,
kemudian terdiam. Tidak perlu berpikir untuk dapat mengetahui bahwa pikiranmu
sedang berkelana. Mencari arti rumah yang sebenarnya bagimu. Tidak sulit menebakmu,
terlebih aku sudah mengenalmu nyaris seumur hidup. Aku menunggu. Menunggu pikiranmu
mendapatkan jawaban yang aku inginkan. Yang aku butuhkan. Jawaban terakhir yang
akan menentukan kebersamaan kita ke depannya.
“Aku tidak tahu”, jawabmu lirih. Matamu menatapku dengan
tatapan itu lagi. Tatapan memohon maaf. Dan aku tau untuk apa maaf itu. Karena kamu
masih belum berhasil mencintaiku bahkan setelah usaha kerasmu tahun-tahun
belakangan ini. Karena kamu masih saja memandangku sahabat terbaikmu alih-alih
istrimu.
Aku mengulas senyum susah payah. Di balik mata itu, aku tau
jawabanmu. Saat kamu menjawab tidak tahu, aku melihat matamu menerawang begitu
jauh. Menegaskan rumahmu adalah di jalanan yang berbeda. Di ranjang wanita yang
berbeda setiap malamnya. Rumahmu berada di langit yang berganti-ganti. Tidak pernah
menetap. Sama seperti hatimu. Mungkin ini karmaku karena aku memisahkanmu
dengannya saat itu, saat rumahmu, tempatmu untuk pulang, hanyalah dia. Hingga sekarang
kamu tidak memiliki “rumah”. Hingga sekarang kamu memutuskan berkelana. Mencari
tempatmu kembali. Sebelum menemukan kamu tidak akan pernah menemukan tempat
untuk pulang dimanapun. Bahwa kamu merasa pulang dengan berada jauh dari
jangkauanku. Dan dengan hilangnya rumahmu, akupun kehilangan rumahku. Aku tidak
tau lagi kemana aku harus pulang.
Kamu. Tadinya kamu rumahku. Tempatku untuk pulang.Ya, hanya tadinya. Saat kita masih
bersahabat tanpa cinta sialan yang muncul di hatiku.
“Aku pergi sebentar”, kataku. Atau mungkin selamanya,
lanjutku dalam hati.
Aku melepaskan diri dari rangkulanmu dan mengenakan kembali
pakaian yang kamu tanggalkan dariku semalam. Kamu menatapku, aku merasakannya
dari balik punggungku.
“Kamu tidak akan kembali lagi kali ini, bukan?”, tanyamu
lirih.
Aku mengangguk pelan.
“Aku rindu rumah. Aku ingin pulang”