Sabtu, 24 Desember 2016

Catatan si Pecundang


Aku tidak takut sendiri. Aku juga tidak takut sepi. Aku menyukainya, bahkan. Aku suka saat sendiri, tidak harus menghadapi manusia yang penuh kepura-puraan, termasuk diriku sendiri. Aku suka rasa sepi, saat aku dapat menikmati kelamku dalam diam.

Satu-satunya yang aku takuti, adalah adanya ketergantungan. Aku tidak suka saat aku merasa membutuhkan orang lain. Ketergantungan, membuatku merasa kehilangan kontrol akan diriku. Maka sebisa mungkin, aku membangun batas untuk diriku sendiri, untuk tidak pernah tergantung pada siapapun. Siapapun.

Tapi kamu keras kepala, bukan? Kamu, dengan kehidupan sempurnamu, datang dan menembus batas yang ku buat. Dan aku, seperti tersihir dengan semua kesempurnaanmu, menenggelamkan diriku secara suka rela padamu. Lambat laun, kamu menjadi pusatku. Aku, memikirkanmu dalam kesendirianku, memikirkanmu juga dalam sepiku. Masalah yang tadinya ku simpan sendiri, aku bagi denganmu, tanpa terkecuali. Kamu masuk dalam duniaku semudah membalikkan telapak tangan, ya? Hingga ketergantungan ini bertambah dan bertambah, aku menyadari, kamu sepenuhnya ada dalam duniaku, namun adakah aku dalam dunia sempurnamu? Kesadaran ini memukulku dengan telak. Aku, secara perlahan mencoba masuk ke duniamu, dan yang ku temukan di dalamnya membuatku terpaku. Akan betapa berbedanya duniamu dan duniaku. Duniaku, kelam. Hitam dan putih. Sedangkan milikmu penuh akan warna. Duniaku hanya mengenal sendiri dan sepi. Sedangkan kamu? Kamu memiliki semuanya dalam hidupmu. Teman, sahabat, penggemar. Semuanya. Hingga ku tebak, kamu tidak tau apa itu sendiri dan sepi. Aku, si gadis tanpa bakat. Dan kamu, pria dengan segudang talenta.  Aku, si gadis pembenci hidup. Dan kamu, pria pencinta hidup. Kamu, satu satunya bagiku. Sedangkan aku, hanya salah satu bagimu. Aku merasa sangat kecil. Aku, seperti pungguk yang mencoba meraih bulan.

Maka, sebelum semuanya semakin dalam, ku putuskan untuk melepasmu. Mengeluarkanmu dari lingkaranku, dan membuat kembali benteng yang kamu tembus. Mengembalikan kamu ke tempat dimana kamu seharusnya berada. Kamu, akan kembali ke kehidupan sempurnamu tanpa aku di dalamnya, yang aku yakini, tidak berpengaruh apapun padamu. Akankah kamu mengingatku sebagai gadis menyedihkan? Ataukah mengingatku sebagai seorang yang tidak punya nama di hatimu? Atau bahkan.. tidak mengingatku sama sekali?

Sementara kamu kembali pada hidup sempurnamu, aku, akan kembali terperangkap pada kesendirian dan sepiku. Aku, akan tetap berada disini. Hidup hitam putihku. Hidup kelamku. Tempat teramanku.
 

Eufrasia Beby Andrea Template by Ipietoon Cute Blog Design