Kamu
membiarkan dirimu masuk ke dalam pelukannya untuk terakhir kali. Kamu janji,
ini kali terakhir. Karena tidak dia, maupun cintanya, mampu menahanmu disini. Kamu
telah berakhir, kamu sendiri tau itu. Dunia dan seluruh isinya membencimu,
ingat?
“Kenapa
kamu harus pergi?” katanya sendu. Tidak, kamu tidak akan membiarkan air matanya
memengaruhi keputusan yang sudah kamu buat.
“Karena
aku telah berjanji pada senja,” katamu tenang. Kamu tidak mengusap air matanya
seperti biasa, karena kamu ingin dia tetap kuat selepas kamu pergi.
“Aku
akan mengantarmu,” katanya. Kamu tersenyum, kemudian menggeleng. Dia semakin
menangis karena tau tidak bisa merubah keputusanmu.
Telingamu
awas mendengar detik yang terus berjalan. Ketika telah sampai waktunya, kamu
bersiap. Kamu berjalan dengan tenang, siap menyerahkan diri pada senja. Senja menyambutmu,
membuatmu merasa diinginkan.
Senja
merengkuhmu secara utuh, membawamu bersama piringan matahari untuk tenggelam
ditelan cakrawala. Kamu berbohong, kamu tidak berjanji dengan senja. Kamu menukar
hidupmu dengan malam. Kamu menggunakan senja untuk mengantarmu pada malam.
Maka
ketika gelapnya malam menjemputmu untuk pergi dari dunia yang kamu benci, kamu
merauk sebanyak yang kamu bisa. Perlahan, sakit yang kamu rasa terangkat
seluruhnya. Kamu tidak lagi merasa kosong. Kamu tidak lagi merasa hampa. Kamu tidak
lagi merasa hancur.
Kamu
menatap dunia untuk terakhir kalinya, memastikan dunia tidak lagi bisa
menyakitimu seperti sebelumnya.
Kamu
bebas, kamu lepas. Ternyata, gelap lebih membuatmu aman.